<aside>
๐๐ง ๐ญ๐ก๐ ๐๐ง๐, ๐ฉ๐๐จ๐ฉ๐ฅ๐ ๐ฐ๐ข๐ฅ๐ฅ ๐ฃ๐ฎ๐๐ ๐ ๐ฒ๐จ๐ฎ ๐๐ง๐ฒ๐ฐ๐๐ฒ. ๐๐จ ๐๐จ๐งโ๐ญ ๐ฅ๐ข๐ฏ๐ ๐ฒ๐จ๐ฎ๐ซ ๐ฅ๐ข๐๐ ๐ญ๐จ ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ซ๐๐ฌ๐ฌ๐ข๐ง๐ ๐จ๐ญ๐ก๐๐ซ๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฉ๐ซ๐๐ฌ๐ฌ๐ข๐ง๐ ๐ฒ๐จ๐ฎ๐ซ๐ฌ๐๐ฅ๐
</aside>
Titik Awal | Tentang Juna | Awal Kisah | Seluruh Kisahnya
Menjadi bungsu tidaklah mudah, memiliki kakak yang terpaut usia begitu jauh dan seorang Gibran Hady juga tidaklah mudah. Memiliki seorang ayah sambung dengan dua ibu dan tiga saudara tiri membuat segalanya semakin tidak mudah.
Juna sering merasa hilang, tertinggal, merasa dirinya di tempat yang tidak seharusnya. Seringkali dia merasa di dalam sebuah gelembung tidak kasat mata dimana dia tidak mengetahui dimana seharusnya berada. Segalanya tidak tepat dan dia tidak tahu dimana harus pulang. Tidak pernah ada yang menuntut Juna harus menjadi seperti apa. Segalanya berjalan begitu saja. Sebagaimana adanya, sampai membuatnya hanya mengikuti arus dunia membawa. Dia tidak pernah mengetahui tujuan hidupnya, alasanya hidupnya dan apa yang dia inginkan.
Terkadang mimpi saat melihat sosok sang ayah tergeletak bersimbah darah berputar lagi bagai sebuah kaset rusak tanpa suara. Juna sudah tidak mendengar lagi suara letupan senjatanya, atau rintihan ayahnya. Tapi potongan kejadian itu selamanya masih dapat dia lihat.
Namun bukan berarti Juna menderita dan tidak bahagia. Walau dia mengalami disleksia karena trauma, dia tidak mengalami kegagalan berarti dalam akademinya. Dia memiliki ibu yang baik, kakak yang baik, ibu sambung yang baik dan ayah sambung yang baik juga. Dia senang bercanda dengan mereka semua. Tertawa seakan itu adalah bahagia yang seharusnya dirasa sebagai kekuatan untuk menjalani kisah yang ditakdirkan Tuhan di dunia.
Sampai akhirnya dia berhenti pada titik dia mulai mempertanyakan, apa itu dunia dan bagaimana cara membuat dunianya tidak terasa hampa.