Perkenalan singkat kali ini dariku, Yashmine syaifa azhara, saya lahir pada tahun 2005 di bulan oktober dan untuk tanggal, saya harap tidak ada yang tahu, dan tidak ada yang mengingatnya, saya lahir di kota yang mungkin orang lain mengiranya kota ini menjadi satu dengan kota kembang, yaitu Bandung, namun bagiku Cimahi adalah kota tersendiri, ya.. Bandung dan Cimahi berbeda.
Ibuku asli sunda, dan ayahku orang Minang tepatnya di palembang tapi aku hanya tahu sekilas info saja
Sepi bukan berarti hilang, namun diam juga bukan berarti lupa. Kadang meskipun aku hanya tetesan debu di atas karang, dan meskipun aku satu di antara ribuan titik hujan. Keindahan gerimis senja memberikanku setets harapan… Kehadiranku bukanlah yang terindah, aku pun bukanlah yang terpenting, namun satu yang aku harapkan yaitu hadirku semoga berguna bagi sesama
sedikit cerita dari masa kecilku yang tidak ingin ku ulang namun tidak juga ingin ku lupakan, sedari saya berumur 12 tahun, yasmine kecil yang baru beranjak dewasa kala itu, tidak taumenau dimana orang yang seharusnya yasmine sebut ayah itu, dan banyak pertanyaan muncul yang tidak bisa saya jawb dari mulut orang-orang berisik itu, tak lain adalah pertanyaan “yasmin.. dimana ayah arief?”
Dan saat malam hari di ruang TV yang saat itu ramai gelak tawa antara fathian dan zidane, aku mencoba bertanya, tidak perduli siapa yang menjawab, bukan hanya ke umma saja aku bertanya, tapi kepada semua orang yang mendengar pertanyaanku, “Kalo boleh tau ayah mana?, banyak yang nyariin ayah loh” , namun pertanyaanku kaliini dijawab oleh keheningan, tidak ada suara tawa dari zidane dan fathian yang sedang bermain game, mereka hanya diam sembari menatap umma, dan jawaban umma kala itu hanya sekedar kata penenang untukku, tanpa memberikan jawaban ditail nya.. “yasmine kalo kangen ayah nanti kita telfon yaa”
Dan semakin dewasa aku baru menyadari bahwa ayah, yang seharusnya menemani ketiga anaknya saat baru menginjak usia remaja ternyata tidak seharusnya aku cari hilangnya, walaupun sampai saat ini aku belum mengetahui alasan ayah dan umma pisah, tapi zidane selalu bilang bahwa “kita seharusnya ga usah cari ayah, karena ayah juga ga cari kita, ayah cuma tau ngasih uang, tapi gapernah ngasih waktu buat keluarganya” Di sisi lain ada fathian yang selalu bilang “ayah itu baik, kita masih di nafkahin aja seharusnya udah berterimakasih”, namun aku hanya anak yang berusia 12 tahun kala itu, dan aku hanya mendengarkan perkataan zidane, karena bagiku zidane adalah teman, yang paling banyakk bermain denganku, banyak mengobrol denganku.
Di awal tahun 2021, saat saya pulang sekolah kala itu, dengan pemandangan yang berbeda, rumah tersa ramai, banyak orang, dan di sana ada ayah, yang duduk dengan perempuan asing, serta seorang anak laki laki yang berumur tidak jauh dariku, aku hanya berlari tanpa alas kaki, menghiraukan keberadaan ayah dengan dua orang asing itu, namun.. yang awalnya aku hendak menceritakan kejadian itu kepada umma, tetapi yang saya lihat disitu hanya fathian dan zidane yang menangis sambil membaca yasin di depan mayat yang wajahnya, sudah aku harapkan untuk mendengar cerita saat aku pulang sekolah...
Dan sekarang umurku sudah genap 19 tahun, tapi ibuku hanya mengenal yasminenya hanya sampai dengan umur 16 tahun, dan setiap ulang tahunku, saya hanya mengharap ucapan dari seorang ibu yang ku panggil “umma”, karena tidak ada yang istimewa selain ucapan itu dari umma
—Bogor, 21-Desember 2024