“Aji! Jangan iseng!”

“Apa sih? Biasanya juga minta divideoin kalau lagi baking.”

“Tapi ini pasti cuma buat iseng-iseng kamu doang, kan?! Angle-nya aja ngasal gitu!”

“Cantik kok, Miw. Udah sana, baking aja yang bener.”

“Aji, stop nggak!”

Sebuah senyum kecil muncul dari bibir Namira setelah ia berbalik badan. Tapi senyum itu hanya ia keluarkan sekitar dua detik. Ya, dia menyembunyikan senyum itu dari Arya. Dia tak mau mantannya itu besar kepala kalau sampai tahu ia tersenyum karena ulah iseng itu.

Sementara itu Arya yang tadinya bersungut kembali ke sofa juga demikian, diam-diam nyengir lebar lantaran bisa kembali masuk ke ruangan ini. Ruang privat Namira yang baru bisa ia masuki lima bulan setelah mereka pacaran dulu. Tapi itu lah salah satu hal yang membuatnya merasa nyaman dengan Namira; ia tak akan dengan mudah membuka ruang pribadinya dengan mudah. Kurang lebih sama sepertinya.

Tapi untuk sekarang, rasanya Arya berharap Namira bisa segera membuka ruang itu lagi untuknya. Pasalnya, sudah sekitar satu bulan sejak ‘pengakuan’ kecil di mobilnya itu berlalu, tapi Namira belum juga terlihat mau membuka hatinya lagi. Keduanya hanya kembali terbuka, namun Arya masih merasa ada tembok besar yang belum bisa dia runtuhkan, bahkan dari sejak ia dan Namira masih berpacaran dulu.

“Manuel sering ke sini?” tanya Arya, entah kenapa meluncur begitu saja dari mulutnya setelah melihat apartemen Namira yang familiar, tapi tetap terasa asing——foto mereka berdua yang semula berada di mana-mana kini sudah lenyap.

“Apa yang bikin kamu mikir Manuel aku ajak ke sini?” tanya Namira balik. Arya bisa merasakan sedikit kemarahan di sana.

“Ya… siapa tau. Aku kan cuma nanya. Kali aja Manuel lebih jago ngambil hati kamu,” lanjut Arya tak mau kalah.

Ada jeda beberapa detik sebelum Namira berkata, “Udah ciuman sama Tamara berapa kali?”

Arya tertawa tanpa suara. Tipikal Namira, pasti akan membalikkan keadaan yang sama. Tapi Arya tak menyalahkan Namira. Memang dia yang memantik api paling pertama.

Tapi bukan Arya namanya kalau langsung mematikan api begitu saja.

Ia berjalan kembali menghampiri Namira yang baru saja memasukkan adonan saltbread ke oven. Yang dihampiri hanya memandang lewat ujung mata sebelum berbalik badan dan memunggungi Arya.

“Mmm…,” Arya mulai bersuara, membuat Namira memelankan gerakannya membereskan tumpahan tepung, “Aku baru ciuman sama kamu sejak balik single.”

Namira berbalik badan, memaksakan sebuah senyum, lalu berkata, “Nice info, Gan.”

Tapi Arya menggantungkan senyumnya. Senyum yang paling susah dibaca Namira, senyum yang selalu bisa membuat detak jantungnya serasa terdengar memenuhi ruangan. Senyum yang kemudian Arya bawa mendekat, hingga membuat Namira panik.

“Ji?” panggil Namira karena kini jarak mereka semakin mengecil. Bahkan Namira sampai berpegangan pada ujung meja dapurnya karena ia tak tahu harus bagaimana. “Aji, sumpah kalau kamu macem-macem ini jadi pertemuan terakhir kita ya!”

“Emangnya kita mau ke mana sih, Miw? Kalau kita masih saling sayang, kenapa kita nggak balikan aja sekalian?”