satu setengah jam setelah ngantar Nabel ke apartemen nya dan nyempatin pulang ke rumah buat mandi, akhirnya sore ini Satria sampai di rumah Jemi. waktu dia datang, rumah sahabatnya itu sudah ramai sama teman-temannya yang keliatan dua kali lipat lebih banyak dari biasanya karena kebanyakan dari mereka janjian buat pergi ke acara karaoke fakultas mereka malam ini dari rumah si Jemi yang memang selalu dijadikan basecamp ngumpul anak-anak.

“Nyampe juga ni orang,” sambut Daffa waktu Satria baru masuk ke dalam dan ngehampirin mereka.

“Mobilmu parkirnya aman tah mas Sat?” si pemilik rumah bertanya karena tau hari ini yang datang ramai, jadi lahan parkir di rumahnya terbatas dan harus di atur biar nggak ganggu pengguna jalan komplek.

“Aman gue pepetin mobil si Amel, Pong.”

“wokeh!”

ada sekitar lima belas orang di sana, dan di antara lima belas orang di ruangan itu, ada dua orang yang nyambut Satria dengan tatapan sinis, yang nggak Satria perhatikan. satu namanya Faiz, satu lagi namanya Aneth. apa alasannya? apalagi kalau bukan karena pesan Satria yang minggu lalu tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak. mau marah dan protes juga nggak bisa karna dari awal statusnya emang nggak ada. lagian punya hubungan yang terlihat spesial sama Satria Raja bukan hal yang gimana-gimana karena sadar mereka cuma jadi salah satunya. tapi jelaslah mereka diam-diam masih simpan dongkol sama perubahan sikap Satria yang tiba-tiba belakangan ini. mereka nggak perlu lagi nebak-nebak alasan perubahan itu karna Satria Raja mungkin lagi asik sama yang lain. tapi tanda tanya besar yang muncul di kepala mereka itu soal siapa sih orang yang lagi dekat sama Satria? karna perubahan Satria nggak cuma dari omongannya, tapi juga sikapnya. siapa yang buat Satria sampai begitu mencolok menjaga sikap dan bangun tembok yang hari demi hari mulai kelihatan seolah-olah Satria Raja sedang menjaga hati seseorang? menjaga hati seseorang, sekali lagi. satu orang? yang rasanya mustahil di kepala mereka, yang mereka juga ragu buat percaya.

“Jadi ikut kan lu ntar malem?” Daffa mastiin. itu, acara karaoke yang fakultas mereka kasih judul ‘karaoke lorong fisip’.

Satria ngangguk sambil ngelepas leather jaketnya, nyisain kaus putih yang melekat di badan gagahnya. “setor muka bentar dah.” terus dia ikut duduk di sofa, ngeluarin kotak rokoknya dari saku celana.

“ga ampe kelar?” tanya Rehan, si ketua pelaksana acara.

Satria gelengin kepala. dia sendiri juga heran sebenarnya. sejak dekat sama Nabel dia ngerasa ada yang sedikit berubah. bawaannya nggak betah lama-lama di luar. bukan karna tongkrongan atau teman-temannya itu nggak asik. tapi isi kepalanya cuma Nabel aja. Nona lagi apa ya? Nona lagi nonton apa ya? Nona tidur kali ya. Mau ketemu Nona, mau ngobrol sama Nona. Lagi mikirin ini aja dia udah kangen lagi sama Nabel.

“Gue bareng lu ya sat, ntar malam?” celetuk Aneth tiba-tiba.

yaelah, nguji peruntungan ya lu neth? Faiz batin, tapi dia juga penasaran sih sama respon Satria.

dan sejujurnya yang diam-diam penasaran nggak cuma Faiz atau Aneth sendiri, tapi juga mereka semua yang ikut sadar perubahan sikap Satria akhir-akhir ini. apalagi si Pange. dia udah siap banget tuh ninju Satria kalau habis ini si Satria ngeiyain ajakan Aneth yang semua tau lah kalau Satria Raja sempat hts sama Aneth.

“Gua bareng mamat tapong dan yang lain juga neth, ayo aja kalo mau bareng, ramean,” balas Satria santai, padahal dia, dan mereka semua juga tau maksud Aneth ya maunya berdua aja.

kan.

kampret ni orang. kapan dia bilang mau bareng gue? Mamat protes dalam hati. tapi pas Satria ngelirik dia, Mamat jadi nangkep maksud sahabatnya itu. jadi dia diam dan ngeiyain.

dan si Pange lega dikit. seenggaknya dia nggak jadi tiba-tiba ngajak Satria ribut di rumah si Tapong sore ini.

“Ah kata gue sih si Satria lagi jaga hati guys. Siapa setuju sama gue?” pancing Amel.

Satria cuma senyum tipis sambil ngeluarin ponsel dari jaketnya.

“Mang iya Sat? Hati siapa yang lu jaga bang?”