Di sinilah ia berada sekarang, di pemakaman Vincent yang diselenggarakan lima hari setelah kecelakaan tersebut.
Dengan pandangan kosong Arthur melihat peti mati yang terletak di depan altar pemakaman. Ia masih tidak menyangka dengan semua kenyataan pahit yang datang padanya.
Setelah mendengar kabar duka itu ia terus mengecek semuanya dan mengingat seluruh kejadian selama sebulan terakhir. Ia terus larut dalam kebingungan akan kehadiran Vincent dalam hidupnya terakhir kali.
Ia merasa seperti orang gila, hari demi hari yang ia pikirkan hanyalah Vincent yang pernah hadir dari hidupnya tersebut. Vincent yang menghilang dalam semalam tanpa aba-aba.
Sejak hari itu, semua yang berkaitan dengan Vincent menghilang seketika seakan pemilik nama tersebut tidak pernah datang dalam kehidupannya sama sekali. Ruang chat dan kontak Vincent sama sekali tidak bisa ia temukan dimanapun. Tidak ada hal yang Vincent tinggalkan untuknya selain kenangan dalam ingatan. Setiap hari setiap detik ia bertanya-tanya pada dirinya dan dunia tentang semua yang terjadi.
Apakah ini nyata? Tau hanya khayalannya saja?
Jika tidak nyata, mengapa semua ingatan tentang Vincent terasa begitu nyata? Ia ingat setiap hal-hal kecil yang ia alami bersama ‘Vincent’ yang mengaku adik Vienda dari masa depan tersebut. Bahkan meski Devone bilang Vincent masa depan itu nyata, hatinya tetap tidak tenang bergelut dengan segala pertanyaan di otaknya.
Selama lima hari Arthur terus menyalahkan semua kejadian yang menimpa keluarga Vincent pada dirinya. Ia terus berkata bahwa dirinyalah yang seharusnya ada dalam kecelakaan itu bukan keluarga Vincent. Ia terus menyalahkan dirinya bahkan sampai membuat keluarganya takut.
Devone menggenggam erat tangan Arthur guna menenangkan tubuh Arthur yang terlihat gelisah di pemakaman.
Lalu tak lama Vienda keluar dengan kursi roda dan neck collar di lehernya. Vienda terlihat sangat kurus kuyu terduduk di kursi roda yang didorong oleh salah satu keluarganya.
Air mata Arthur tak kuat terbendung ketika melihat teman sekelasnya dengan kondisi sangat mengenaskan. Ia terus menatap Vienda yang menangis tanpa bersuara menatap peti mati adiknya. Entah sudah berapa lama ia menangis, netranya letih sendu menjelaskan semua emosi yang ada dalam dirinya.
Devone menoleh pada Arthur lalu merangkul pundaknya kemudian memeluknya dengan erat. Sebenarnya, ia juga tidak sekuat itu untuk tidak menangis. Sebagai satu-satunya orang yang tahu cerita dari awal sampai akhir antara Vincent dengan Arthur di dunia ini, ia juga sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Vincent.
Dalam lima hari berturut-turut sejak kejadian tersebut Devone selalu menyempatkan diri pergi ke rumah Arthur dan rumah sakit untuk mengecek keadaan teman-temannya.
Mental dan fisiknya juga sangat letih, namun ia memutuskan untuk tetap tegar untuk teman-temannya. Ia hadir untuk Arthur sebagai teman dekatnya dan hadir sebagai ketua kelas serta teman seperjuangan untuk Vienda.
“Cer,” bisik Devone sambil memeluk sahabatnya tersebut.
Tak lama setelah itu isakan kecil terdengar di telinga Devone.
Pelukan itu semakin erat semakin dekat dan membuat keduanya sesak karena Arthur membalas pelukan itu tak kalah erat. Arthur meremas kain pakaian belakang Devone dengan kencang. Devone sadar akan hal itu namun ia tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan Arthur meremas sesuka hatinya.
Pelan-pelan Devone melepaskan pelukan itu. Wajah Arthur sudah sangat merah dipenuh air mata di seluruh pipinya.
“Kita pulang?” Tanya Devone