Jihoon tersenyum. Berdiri menghadap altar dengan balutan jas mahal yang sukses menguras tabungannya selama tiga bulan. Cukup lama ia memandangi panggung sakral itu—tempat di mana dua insan yang saling mencintai akan mengikat janji suci. Jihoon menghela napas. Ada berat yang tertinggal di dadanya, tapi juga kelegaan yang pelan-pelan mulai bisa ia terima.
Kemudian manik matanya berkeliling, memperhatikan setiap sudut gedung yang dihias dengan sangat apik. Gedung besar yang mungkin membutuhkan waktu menabung selama bertahun-tahun bagi Jihoon untuk bisa menyewanya, yang itu pun hanya akan digunakan untuk beberapa jam saja. Jihoon pun tertawa—mentertawakan dirinya sendiri, tepatnya.
“Cantik,” gumamnya, ketika matanya menangkap rangkaian bunga aster berwarna putih di sepanjang aisle, persis seperti apa yang didambakan oleh dia. Dan, lagi-lagi, Jihoon tersenyum.
Mungkin Jihoon akan menyesal. Menyesal sudah datang, atau menyesal jika tidak jadi datang. Entah mana yang akan lebih dia sesali sebenarnya, tapi yang jelas, keduanya sama-sama akan menjadi sebuah penyesalan bagi dirinya. Dan, lagi-lagi, Jihoon tertawa.
Namun, ia segera tersadar ketika riuh rendah di ruangan itu perlahan mereda. Bisik-bisik memudar, kursi-kursi berhenti bergeser, dan para hadirin kini sudah menempati bangku mereka masing-masing. Bahkan salah satu pengantin pria sudah berdiri gagah di atas altar, ditemani seorang pendeta yang menunggu dengan tenang. Dengan sedikit panik, Jihoon segera melangkah cepat ke kursi paling ujung kiri di barisan paling belakang—yang, untungnya, masih kosong. Sengaja menyembunyikan dirinya, entah dari apa.
Padahal ia hanyalah seorang tamu undangan. Tapi gugupnya mungkin bisa diadu dengan milik sang pengantin. Jihoon menunduk, berkali-kali menghembuskan napas demi menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Kedua tangannya terkepal di atas kakinya yang tak mau berhenti mengetuk lantai, sedikit menimbulkan berisik yang membuatnya sampai harus meminta maaf karena ditegur oleh ibu-ibu yang duduk di bangku depannya.
“Tenang, Jihoon. Tenang,” sugestinya pada dirinya sendiri, berulang kali.
Dan tak lama kemudian, bagian yang paling dinanti-nanti pun tiba, terutama oleh dirinya.
Musik perlahan mengalun, mengiringi seorang pria bertubuh mungil memasuki ruangan, berjalan anggun di samping ayahnya dengan senyum yang membuat napas Jihoon sontak tertahan. Matanya pun langsung terpaku tanpa bisa berpaling.
Senyum itu… indah sekali, merekah lembut di wajah yang hanya dipoles make up tipis. Jihoon bahkan yakin—bibir itu sama sekali tak butuh lipstik berwarna merah merk apapun. Karena merahnya sudah alami sejak dulu.
Cantik. Sangat cantik.
Bahkan jas putihnya, yang Jihoon tahu nilainya pasti berkali-kali lipat di atas miliknya, mampu membuat kecantikannya semakin terpancar. Jas putih yang mungkin membutuhkan waktu menabung, lagi-lagi, selama bertahun-tahun bagi Jihoon apabila ia ingin tubuh pria mungil itu bisa terbalut dengan jas yang sama di hari terindahnya.