Dan sedikit terburu menyusul Ian kembali ke bawah, kembali ke area curug. Ia sudah panik dan khawatir, bahkan bertanya-tanya bagaimana bisa pria itu kehilangan salah satu barang berharganya?
Tak lama di kejauhan ia sudah melihat presensi Ian yang terduduk di antara bebatuan. Dan kembali cemas melihat air muka Ian yang termenung, berarti sampai detik Dan menyusulnya kunci itu belum ditemukan.
Ketika ia hampir sampai, Dan dengan iseng dan diam-diam memotret Ian. Sialnya, bunyi cekrek dari ponsel yang tak ia silent justru terdengar. “Idih hp bego!” ujarnya kesal dalam hati.
“Dan? Sini duduk dulu sebentar,” Ian menggapai tangan Dan begitu yang lebih kecil di dekatnya. Ia menggenggam erat tangan Dan, membimbing tubuh Dan duduk dengan baik di sisinya.
“Kuncinya gimana?”
“Udah ketemu.” Ian menyodorkan kunci mobilnya. Ian tak pula berbohong, memang terjatuh dan untungnya tidak sampai di area ia duduk sekarang.
“Ketemu di mana?”
“Di tangga yang depan, yang mau ke arah resto.”
“Kok bisa jatuh?”
“Aku ceroboh,”