Aku memutuskan untuk menghadiri acara reuni SMA.
Acara reuni kali ini diselenggarakan dengan berbagai kegiatan. Mengingat pertemuan satu angkatan ini bersifat langka, atas usulan seseorang—semuanya sepakat untuk membuat konsep acara besar-besaran supaya lebih seru dan berkesan. Kegiatan acara reuni terdiri dari; sambutan, karaoke, makan bersama, lomba olahraga, kemudian ditutup dengan nostalgia bersama dengan menonton berbagai video kenangan semasa SMA—dari masing-masing kelas. Konsep acara yang sungguh unik.
Aku berangkat menuju tempat acara reuni dengan mengendarai mobil sendiri. Setelah belajar dalam kurun waktu berbulan-bulan, akhirnya aku bisa cukup mahir mengendarai mobil.
Mobil yang kusetir melaju di atas jalanan aspal. Melewati gedung-gedung pencakar langit dan lampu-lampu jalanan yang mati lantaran ini masih pagi. Aku tersenyum kecil, tidak menyangka kota ini semakin berkembang pesat. Waktu cepat sekali berlalu. Aku bersyukur diberi kesempatan hidup lebih lama, tapi... di sisi lain, aku merasa sedih, setiap kali mengingat kenangan masa lalu yang indah—tidak akan pernah bisa terulang.
Aku menyalakan radio. Terputar sebuah lagu lawas yang tidak asing di telingaku. Bibirku terkatup rapat. Napasku sempat tertahan selama beberapa detik.
Kemana kau selama ini
Bidadari yang kunanti
Kenapa baru sekarang kita dipertemukan?
Sesal takkan ada arti
Karena semua telah terjadi
Kini kau telah menjalani
Sisa hidup dengannya
Lagu ini seolah menarikku melintasi lorong waktu untuk kembali ke masa lalu. Lagu yang mengingatkan aku kepada sesosok perempuan pemilik senyuman semanis permen kapas. Perempuan yang pernah berkata padaku, bahwa cinta adalah sebuah teka-teki, yang mengasah pikiran dan perasaan, serta sulit dipecahkan. Perempuan yang dahulu menghiasi hari-hariku dengan warna dan bahagia. Perempuan yang aku rindukan setiap waktu.
Kintan Adhisti.
”Nara, kamu tau lagu ini nggak?”
”Dari suaranya.... ini lagunya Sheila on 7 ya? Tapi aku nggak tau judulnya.”
”Iya. Judulnya 'Yang Terlewatkan'. Sedih banget nggak sih liriknya? Nyeritain sudut pandang orang yang menyesal, karena orang yang dia cintai udah jadi milik orang lain.”
”Ah... iya. Sedih banget. Aku nggak bisa bayangin kalau ada di posisi orang itu.”