Riuh tepuk tangan dan sorakan bergema di dalam sebuah ballroom yang cukup luas. Penampilan perdana dari album terbaru Danish sontak mengunggah semangat dan intimnya Jogja Film Festival tahun ini. Merdu dan indah suaranya berhasil menghipnotis siapapun yang mendengar. Tak terkecuali dengan kawan lamanya, yang sejak dirinya tampil di atas panggung, ia sudah duduk di ujung ruangan ini. Meski kursi mewah khusus telah disediakan untuknya, ia memilih untuk menepi.

Danish menyelesaikan penampilannya dengan membawa 3 lagu terbarunya, begitu merdu dan cantik, begini kata Mahar, kakak tersayang Dan.

Jagad bangkit dari duduknya. Berjalan cepat menuju parkiran, pikirnya, ia tak lagi mampu meneruskan acara ini. Dirinya terlalu pengecut dan malu jika mungkin saja nanti harus bertegur sapa dengan Danish. Tak lagi ia punya muka untuk bertemu dengan sang mantan kekasih, yang sialnya hingga hari ini tak mampu ia lupakan. Lalu, apa benar jika egonya sebegitu tingginya hingga lagi-lagi ia meninggalkan Danish?

Sempat berpikir untuk menemui Danish dalam durasi lima menit. Menjelaskan semuanya, utamanya akan kepergian dirinya yang tanpa kabar dan alasan. Mengukir lara yang selamanya mengendap dalam Danish, yang lagi-lagi ia gores luka itu hari ini.

●●●

Pengecut.

Jagad memutuskan untuk pulang tanpa berani menyelesaikan semuanya.

Langkahnya terhenti kala tujuannya di parkiran tinggal dua langkah. Tubuhnya turut luruh terjerembab ke aspal, dua dan kemudian tiga hantaman keras mengenai dua sisi wajahnya. Dihajar dan hampir diinjak tanpa ampun. Mahardika Danindra, menarik kerah kemeja Jagad bermaksud menyuruhnya berdiri. Sang pangeran itu tergopoh untuk berdiri, pun ia sempoyongan akibat bogeman keras berturut-turut menimpanya.

“Mas, saya bisa jelaskan. Semu—”

Asu!” Begitu umpatan dan tepat setelahnya Mahar meludah meski tak serta merta tepat pada wajah Jagad.