[Mayu’s POV]

Kata kakak kelasku, kalau setelah pukul empat sore dan semakin malam di sekolah, hawanya akan berbeda dari biasanya. Tapi hari ini hujan, pukul lima lebih, dan aku baru saja menyelesaikan latihan danceku.

Zenobi pulang lebih dulu setelah evaluasi kegiatan cup sabtu kemarin. Sementara Beryl, jangan tanyakan ‘pulang’ padanya. Sudah pasti dia berdiri di barisan paling depan menuju gerbang sekolah (terlebih si super sibuk itu sekarang satu les sama Belvaziel. Gak kebayang betapa dekatnya mereka sekarang, doakan saja mereka cepat jadian supaya bisa kutagih pajak jadian mereka!!). Lalu, disinilah aku, Maira Ayunda, kelas 11 MIPA 3, duduk diam di koridor sekolah yang sepi dan sendirian.

Tadinya masih ada beberapa anak futsal yang baru saja selesai latihan juga. Kulihat latihannya tidak begitu lama. Sangat sebentar dibandingkan latihan biasanya. Aku agak sedikit bete. Malik si maha dahsyat tampan pujaan hatiku tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Seolah ditelan bumi. Tidak ada kabar apapun. Jadi aku bete (dan sedih).

Sepuluh menit kemudian aku berjalan menuju kantin. Syukur rasanya mendapati ada dua kantin yang masih buka. Cireng Bu Jujuk dan Es Pak Makmur. Singkatnya si ibu jualan cireng dan si bapak menjual berbagai es. Aku menyapa keduanya dengan riang. Setidaknya aku tak sendirian lagi.

“Lho, Nduk, kok belum pulang? Sudah sore ini,”

Aku duduk dan tersenyum menghadap kantin Bu Jujuk. “Jemputannya kena macet, bu. Biasalah, Jakarta kalau hujan kayak gimana?”

Bu Jujuk manggut-manggut. Tiba-tiba beliau menyodorkanku sepiring cireng yang baru saja di goreng. “Tadi sisa masih banyak. Ibu gorengin buat kamu aja, sambil nunggu jemputan.”

“Ibu... Makasih banyak loh, Bu Jujuk...” jelas aku terharu. Aku memang lapar (sangat-sangat lapar). Mungkin ini yang dikatakan rezeki anak soleh. Tanpa ala-ala menolak karena sungkan, aku menerima uluran piring dari Bu Jujuk.

Tiba-tiba gemuruh petir mengagetkanku. Hujan kian sore kian deras. Curiga malam ini aku menginap di sekolah. Awalnya aku makan dengan tenang dan damai, sebelum pekikan suara yang aku kenal terdengar dari ujung lorong kantin.

“BU JUJUKKK, CIRENGNYA MASIH ADA GAK?”

Setelahnya suara lari kaki terdengar mendekat ke arah kantin. Pak Makmur yang beberapa lalu kulihat tertidur di sudut kantinnya mendadak bangun dan menggelengkan kepalanya.

“Anak itu lagi...” suara Pak Makmur resah sementara aku jadi tertawa karena menurutku itu lucu.

“Pak Makmur, es tehnya satu ya pak!!” “Udah abis!!! Telat kamu kemana aja??” “Yah!! Adanya apa dong?” “Jeruk ada jeruk. Mau kamu jeruk?” “Boleh deh,”

Kemudian laki-laki itu berpindah ke kantin Bu Jujuk. Tampaknya ia masih belum menyadari keberadaanku.

“Sisa berapa cirengnya, Bu Jujuk?” “Masih banyak, Cah. Mau sekalian dibawa pulang?” “Nggak deh, Bu Jujuk. Nanti si mami marah anaknya makan cireng mulu. Malik beli lima ya. Makan disini aja. Hujannya tuh, deres banget. Kayaknya habis diputusin sama pacarnya.”

Bu Jujuk tertawa dan mempersiapkan pesanan laki-laki itu. Kalian nggak salah baca. Itu Malik. MALIK KAMANDAKA ALIAS CRUSH AKU. (Bye-bye jantung sehat, alias mendadak DEG-DEGAN PARAH).

Tepat saat ia membawa piring berisi cireng Bu Jujuk, barulah ia menyadari keberadaanku. Aku tersenyum canggung kala Malik menatapku.

“Hah?” ucapnya refleks. Seolah ia setengah kaget dan tidak percaya. “Maira... kan?”

Aku mengangguk. Malik terdiam sebentar sebelum ia mengurungkan diri mencari meja lain. Dia... Ke arahku??? DIA KE MEJAKU?? WOI???