Kejadian 13 tahun yang lalu adalah insiden yang tidak akan pernah Irene lupakan seumur hidupnya. Kejadian dimana saat Azka berusia lima tahun, sebuah insiden penculikan hampir merenggut nyawanya terjadi. Ia sempat hilang selama sepuluh jam sebelum ditemukan gemetar di sebuah gudang tua. Sejak saat itu, Irene sebagai Mami-nya tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak jika putranya tidak berada dalam jangkauan pandangannya atau di bawah perlindungan seseorang yang ia percaya sepenuhnya.

Ketakutan itu perlahan-lahan menjadi obsesi. Irene selalu merasa bahwa dunia terlalu berbahaya bagi putranya, dan ia membutuhkan "benteng" hidup yang bisa menjaga Azka saat ia tidak bisa bersama dengannya.

Di sisi lain, keluarga Rakha memiliki ikatan yang sangat dalam dengan orang tua Azka. Bertahun-tahun lalu, saat bisnis ayah Rakha berada di ambang kehancuran dan keluarga mereka nyaris kehilangan segalanya, ayah Azka-lah yang mengulurkan tangan tanpa pamrih sedikitpun.

Membuat keluarga Rakha tidak akn pernah melupakan budi tersebut. Mereka memandang Azka bukan hanya sebagai anak dari sahabat, melainkan sebagai sosok yang harus mereka muliakan. Sejak Rakha masih kecil, orang tuanya selalu menanamkan satu hal padanya yiatu “Jaga Azka dengan nyawamu, karena keluarganya adalah alasan kita masih bisa berdiri tegak hari ini.”

Apalagi setelah insiden yang terjadi pada Azka membuat keluarga Rakha juga menjadi ikut protektif kepadanya. Meskipun begitu kedua keluarga tidak tahu jika keduanya justru tumbuh dengan saling membenci. Atau lebih tepatnya Azka yang selalu memulai peperangan dengan Rakha.

Karena itu ketika Irene mengutarakan niatnya untuk menjodohkan Azka dengan Rakha demi keamanan putranya, orang tua Rakha menyambutnya dengan tangan terbuka. Bagi mereka, ini adalah cara terbaik untuk membalas budi sekaligus memastikan Azka jatuh ke tangan yang tepat. Tapi bagi Azka semuanya terasa seperti pengkhianatan.

"Mi, ini gila! Rakha itu orang yang paling aku nggak mau lihat di dunia ini mukanya, gimana bisa jadi suami!" protes Azka di malam dimana acara makan malam keluarga besar yang dipaksakan atas kehendak Mami-nya di adakan.

Mami Azka hanya memegang tangan putranya dengan gemetar, matanya berkaca-kaca. "Aca, Mami nggak bisa tenang. Mami selalu mimpi kamu dibawa orang lagi. Rakha itu kuat, keluarganya juga tulus sayang sama kmau. Tolong, lakukan ini demi ketenangan hati Mami ya sayang? Kalian waktu kecil sangat dekat ada kemungkinan bisa saling jatuh cinta apalagi kalau sudah terbiasa bersama"

Azka terdiam. Ia bisa melawan dunia, tapi ia tidak pernah bisa melawan air mata ibunya yang trauma akan kehilangannya. Karena ia tau cinta ibunya kepadanya sangatlah besar sehingga apa yang di lakukan olehnya ini memang yang terbalik untuknya.

Rakha, yang duduk di seberang meja, hanya menatap Azka dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Di sekolah, mereka mungkin saling mendelik dan melempar sindiran tajam bahkan tak jarang saling baku hantam, tapi di depan orang tua mereka, Rakha adalah sosok tunangan yang pas untuk Azka

"Saya bakal jagain Azka, Tante. Sebagaimana keluarga kalian jagain keluarga kita dulu. Tante nggak usah khawatir ya" ucap Rakha mantap, tanpa keraguan.

Azka mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia terjebak di antara rasa benci pada Rakha dan rasa bersalah pada Mami. Membuatnya harus menerima kenyataan bahwa musuhnya kini resmi menjadi pelindungnya. Dan Azka tidak tahu mana yang lebih buruk kenyataan bahwa ia akan menikah dengan Rakha, atau kenyataan bahwa Rakha sebenarnya menikmati setiap detik dari "tugas" menjaga Azka ini.