Mentari belum benar-benar bangun dari peraduannya. Disaat siswa seusianya masih terlelap dipeluk hangatnya selimut, Leehan sudah berjibaku dengan dingin yang menggigit tulang. Pasar adalah dunianya, riuh rendah suara pedagang yang saling bertabrakan dan deru mobil pick up pengangkut sayur menjadi musik untuknya memulai hari. Leehan, berbalut kaos usang yang sudah berkali-kali dicuci hingga seratnya menipis, tampak bahu-membahu bersama para kuli panggul yang usianya jauh di atasnya. Ia bukan sekadar pemuda yang sedang mengais uang saku demi kesenangan, ia merupakan contoh sebilah punggung tunggal yang mati-matian menopang seluruh harapan keluarganya.
Sepasang tangan rapuhnya yang dipenuhi lebam-lebam kecil merupakan saksi bisu dari hantaman benda tumpul dan gesekan ketika ia mencengkeram erat keranjang-keranjang rotan yang sarat beban. Mengangkut dari satu kios ke kios lainnya, ia berjalan tanpa jeda demi memastikan setiap pesanan sampai tepat waktu. Namun terkadang, kejujuran dan kerja kerasnya seringkali dibalas dengan lepehan liur. Leehan manusia biasa, ia juga kerap mengeluh dian-diam, hatinya tak pernah benar-benar lapang menerima garis hidup yang terasa begitu diskriminatif dan tidak adil sekalipun pada anak muda sepertinya padahal usaha yang ia keluarkab sama bahkan lebih besar ketimbang orang-orang tua itu.
Pernah suatu ketika, seorang pembeli yang tak sabaran menyemburkan makian tepat di depan wajahnya hanya karena barang datang terlambat dua menit. Belum lagi pedagang-pedagang culas yang tega memotong upahnya yang tak seberapa dengan alasan-alasan yang dikarang sedemikian rupa. Di saat-saat seperti itu, Leehan merasa muak hingga ke kerongkongan. Amarah itu bergejolak hebat di dadanya, membara layaknya api yang disiram minyak tanah, siap meledak dan menghanguskan apa saja. Sialnya, lagi dan lagi, ia memilih untuk menelan kembali seluruh makian dan harga dirinya bersama tetesan peluh yang mengalir deras dari tubuhnya.
Pukul enam lewat empat puluh menit. Leehan berlari sekencang yang ia bisa, menerjang debu-debu jalanan yang menusuk mata. Jarak pasar ke sekolahnya memang tidak seberapa jika diukur dengan langkah kaki normalnya orang-ofang, tapi dengan banyaknya beban fisik yang menguras habis tenaganya sejak pagi buta, kedua kakinya terasa sangat berat, berubah seolah-olah seperti cor-coran beton.
Napasnya memburu, paru-parunya terasa berdenyit perih saat ia mendapati gerbang sekolah sudah tertutup setengah. Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, ia menyelip masuk sebelum penjaga sekolah sempat menegurnya. Leehan tidak lagi peduli pada orang-orang disekitarnya. Ia berjalan melewati koridor dengan langkah yang berat, kepalanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena kelelahan.
Saat masuk kelas, orang-orang memperhatikan bagaimana kancing seragam Leehan yang tidak rapi, bagaimana tangan pemuda itu sedikit gemetar, dan bagaimana ia berkali-kali menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan bergores bekas luka yang belum hilang. Ia tak peduli, yang penting masih bisa sekolah menurutnya sudah cukup.
Bahkan setelah bel pulang sekolah berdering, tidak ada kata istirahat bagi Leehan. Beban menyebalkan itu masih saja mengikat erat tubuh kurusnya, menyeretnya kembali pada rutinitas yang seolah tak punya ujung. Leehan kembali terjun ke jalanan, mengantar barang dari satu gang sempit ke gang lainnya, membantu ibunya merapikan dagangan, hingga memastikan adik dan ibunya setidaknya bisa melihat nasi di atas piring hinggak esok pagi untuk sarapan. Ia bergerak seperti mesin, mengabaikan sendi-sendinya yang mulai berdenyut nyeri.
Dengan langkah sempoyongan, Leehan berjalan menyeret kedua kakinya dengan lesu menuju jalan pulang. Ia menghela napasnya berat. Leehan tahu, banyak jenis lelah di bumi ini yang dipikul masing-masing insan. Ada yang lelah karena mengejar ambisi, lelah karena tercelik tekanan orang sekitar, ada juga yang lelah karena patah hati. Bolehkah ia mengeluh? Ia juga ingin seperti yang lain, tak harus selalu mengatakan “masih cukup” dikala uang tak satupun berada pada genggamannya, tak harus selalu mengatakan “sudah kenyang” dikala lapar menggerogotinya.
Tiba-tiba, sebuah tangan melingkar di lengannya, menariknya dengan gerakan yang cepat. Leehan tersentak, pikirannya yang sempat melayang mendadak ditarik kembali ke bumi. Ia oleng, hampir saja kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke aspal jika orang itu tidak dengan sigap menumpu bahunya.
“Ayo ikut aku.”
Oh, rupanya Taesan. Leehan tahu betul orang ini, satu-satunya manusia di kelasnya yang memiliki mata cokelat indah, yang senyumnya paling cantik, bicaranya paling asal dan suaranya paling nyaring di kelas. Tanpa menunggu persetujuannya Taesan menariknya menjauh dari keramaian jalan raya, membawanya ke sebuah tepian danau.