Yuna, perempuan, 17 tahun, kelas 2 SMA, menjalani kehidupannya dengan penuh semangat. Hari ini adalah hari senin. Kebanyakan orang merasa malas bertemu dengan hari senin, tentu saja Yuna juga sama. Ia sangat malas untuk bangun dari tempat tidur dan terus mematikan alarm yang ia stel kemarin. Terbesit sebuah pikiran di kepalanya, haruskah dirinya bolos sekolah untuk hari ini? Hari ini saja, besok ia akan berangkat dan belajar dengan rajin seperti anak yang baik budiman. Tapi tidak lama setelah Yuna berpikir demikian, tubuhnya mendeteksi sepasang tangan mengguncangkan badannya dengan sedikit agresif.
“Woi bangun pemalas, udah jam enam lebih kocak. Mama papa lo nyuruh gue bangunin lo buat sarapan.” suara yang sangat familiar, terlalu familiar, sukses mengganggu tidur cantik Yuna. Suara tersebut berasal dari tetangga sebelah rumahnya yang merupakan teman masa kecil sekaligus teman sekelasnya, Scaramouche. Cowok bersurai biru gelap dengan mata yang begitu indah dan sulit diungkapkan dengan kata-kata. Entah sejak kapan dia sering menjemput Yuna ke kamar untuk bangun, sarapan, kemudian berangkat sekolah bersama. Orangtua Yuna terpantau sudah lelah membangunkan anak satu-satunya ini, sehingga mereka mengandalkan Scara untuk menangani Yuna.
“Mmmmm…. Mau bolos.” balas Yuna, ia menutup kepalanya dengan selimut dan berubah posisi menjauh dari Scara. “Tsk, kebiasaan. Dikit-dikit mau bolos. Bangun cepet, gue tadi masakin omurice buat lo. Mama nggak masak.” Scara membuka paksa selimut Yuna dan menariknya berdiri. Dengan ogah-ogahan, Yuna berdiri dan mengikuti Scara untuk sarapan. Pagi ini Scara memasak omurice, salah satu masakan kesukaan Yuna yang sering dibuat oleh Scara. Di meja makan, terlihat sepiring omurice panas yang menggugah selera. Aroma yang dikeluarkan berhasil menghilangkan kantuk Yuna dalam sekejap. Perempuan itu berlari ke meja makan, duduk, lalu menyantap omurice tersebut.
“Enak, kayak biasanya. Lebih enak dari yang di resto jujur.” komentar Yuna setelah menyelesaikan sarapannya. Scara yang mendengar pujian dari Yuna tampak bangga, “Gue akhirnya nemu resep yang cocok sama preferensi lo, lumayan beda dari yang disajiin di restoran. Makanya, nggak usah beli kalau mau omurice. Makan buatan gue aja.” ucapnya. Dua bulan Scara belajar cara membuat omurice seperti yang dijual di Jepang. Awalnya, ia melakukan itu karena mendengar Yuna mengeluh ingin makan omurice tapi mahal, padahal cuma telur, katanya. Sebetulnya tidak hanya omurice, Scara seringkali memasak untuk Yuna. Apapun yang Yuna ingin makan, apapun yang Yuna suka, Scara tahu cara membuatnya. Mulai dari nasi goreng, dimsum, mie ayam, mochi, brownies, kue, hingga ramen. SEMUA.
Yuna meneguk air putihnya dan bergumam “Sumpah masakan lo enak banget. Jago parah sih. Join itu bisa sih, lomba masak yang di TV. Masterchef? Kalau lo seriusin dari sekarang, setahun atau dua tahun lagi bisa lah ikutan”. Scara terdiam beberapa saat lalu menggelengkan kepala, “nggak tertarik”. Yuna mengernyitkan kening, “sayang banget, padahal lo punya skill yang mumpuni dan mau belajar. Tiga bulan nggak sih lo belajar bikin omurice? Keren tau.” ucap Yuna. Perempuan itu sudah puluhan kali menyaksikan Scara memasak, kemampuan teman masa kecilnya tidak kalah dengan chef yang sering ia tonton di saluran TV, YouTube, dan IG Reels.
Scara menatap mata Yuna dan membalas, “kalau gue mau ikut acara kayak gitu, berarti gue harus belajar masak semua makanan dong. Mereka suka kasih tantangan macam-macam kan?”. Yuna makin mengernyit, “ya makanya gue bilang latihan dulu satu atau dua tahun, biar lo bisa belajar dulu. Apa lo malas aja jangan-jangan.” Scara tidak mengelak, dia cuma menjawab “nggak salah. Gue memang malas belajar masakan yang lo ga tertarik atau ga doyan. Yang penting gue bisa masakin makanan yang lo suka, udah cukup. Gue belajar masak buat lo doang.”
Tolong jangan ditanya bagaimana kondisi Yuna sekarang. Wajahnya memerah, tubuhnya terdiam, jantungnya serasa ingin lompat dan melakukan maraton mengelilingi Wisdom Park. Yuna belum menyiapkan dirinya untuk mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Scara. Sebenarnya ini bukan pertama kali teman dekatnya mengatakan hal yang memicu salah tingkah, ini sudah ke-3 kalinya bulan ini. Yuna harus mengingatkan dirinya berulang kali bahwa mereka berdua hanyalah teman masa kecil yang sangat dekat sejak lama.
“Gue mau cuci piring, siniin piring lo. Habis ini berangkat.” Yuna beranjak dari kursi, mengambil kedua piring yang telah selesai dipakai, kemudian mencucinya di dapur. Setelah itu, ia mengambil tas sekolahnya di kamar dan melangkah ke luar rumah. Scara tampak siap berangkat, sedang memainkan ponsel di atas motor. Begitu melihat Yuna sudah siap, ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan menyalakan mesin motor. Sebelum Yuna naik, kedua footstep telah diturunkan untuknya. Kata kebanyakan orang, Scara adalah orang yang cuek. Kalau menurut Yuna sih, tidak. Memang, sekilas Scara terlihat cuek dan tidak banyak berbicara. Scara bukan tipe orang yang mudah mengekspresikan dirinya, Yuna tahu bahwa Scara aslinya sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Hal kecil seperti inilah yang membuat Yuna yakin akan hal itu.
Kebetulan Yuna dan Scara ada di kelas yang sama. Bukan hanya saat SMA, sedari TK mereka berdua selalu satu kelas. Tidak ada sistem pengacakan kelas setiap kenaikan kelas, sehingga Yuna tidak pernah absen melihat wajah Scara di sekolah. Anehnya, ia tidak sekali pun merasa bosan. Bahkan selama SMA ini keduanya selalu duduk sebangku, satu kelompok ketika guru memperbolehkan murid memilih anggota, sering pergi ke kantin bersama, dan berangkat-pulang bersama. Sedekat itu hubungan mereka sampai-sampai orang terkejut Yuna dan Scara hanya teman dekat.
Hari itu berjalan seperti biasa. Yuna masih mengantuk karena semalam menonton anime hingga jam 2 pagi. Yuna paling tidak bisa tidur di bawah 6 jam. Ia tahu akan hal itu tapi tetap saja tidur larut. Seperti biasa pula Scara menjadi siswa teladan yang fokus memperhatikan penjelasan guru sambil mencatat. Catatan Scara sangat rapi dan enak dibaca, Yuna biasa menyalinnya sehari atau dua hari sebelum ujian. Ketika waktu istirahat tiba, Yuna masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya. Di saat yang bersamaan, dirinya juga ingin membeli jajan di kantin.
Kalau sudah dalam situasi ini, Scara langsung menawarkan diri untuk membelikan jajan untuknya. Selain karena mengantuk, Yuna malas pergi ke kantin karena jaraknya cukup jauh dari ruang kelasnya. Kantin berada di bagian ujung barat dari sekolah dan kelasnya berada di sisi timur ujung sekolah. Beberapa kali Yuna bertanya pada Scara apakah tidak masalah cowok itu berjalan jauh untuk membelikan snack, balasannya selalu “gue juga mau beli makan” atau “lagi pengin jalan-jalan.” Beberapa teman Yuna kadang menggodanya, “Scara ngelakuin itu karena suka sama lo, Yun.” Bohong kalau Yuna bilang dirinya tidak salah tingkah saat digoda begitu, tapi ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkannya terlalu jelas.
Sepulang sekolah, tiba-tiba Yuna ingin makan brownies dan meminta Scara untuk mampir dulu sebelum pulang. “Gue lagi pengin brownies, nanti mampir dulu dong ke toko kue yang di Jakal” ucapnya. Hari ini Yuna membawa uang jajan lebih, jadi dia akan membeli sekotak besar brownies untuk dimakan di kamar sambil melanjutkan anime yang ia tonton tadi malam. “Lo mau brownies? Gue buatin aja. Di rumah masih ada bahannya.” balas Scara. Jawaban yang sudah biasa Yuna dengar. Sebuah fun fact kecil, hampir setiap dirinya mengajak Scara untuk membeli makanan di luar, Scara menawarkan diri untuk memasakkan makanan yang Yuna ingin beli tersebut. Katanya buatan dia sama enaknya atau malah lebih enak dari yang dijual orang. Kalau Yuna bersikeras lebih enak yang dijual, Scara akan bertanya bagaimana bisa memperbaiki masakannya menjadi lebih enak dan melakukan trial-error sampai Yuna setuju buatannya sama atau lebih enak dari yang dijual.
Yuna terdiam sejenak. Sejujurnya ia mau saja mengiyakan tawaran teman dekatnya itu, tapi beberapa hari terakhir Scara terlalu sering membuatkannya makanan sehingga dirinya sedikit tidak enak terus-terusan merepotkan. “Nggak usah, gue nggak enak bikin lo capek-capek masak habis sekolah. Mending lo istirahat aja.” Scara menggelengkan kepala dan balik membalas. “Nggak capek kok kalau buat lo. Ayo buruan naik,”
Yuna naik ke atas motor sambil menahan diri untuk tidak salting lagi untuk ketiga kalinya hari ini. Serius, kalau Scara terus-terusan bersikap manis begini akan sulit baginya untuk tidak naksir berat. Rasanya ingin ia peluk Scara lalu bertanya “what are we”. Beruntung Yuna dapat mengontrol dirinya dengan baik dan duduk tenang sampai rumah. Yuna mandi dan berganti pakaian sebentar kemudian berjalan menuju rumah Scara untuk membantu membuat kue.
Di dapur, Scara telah siap dengan celemek dan bahan-bahan membuat brownies tertata rapi di meja. Yuna berjalan mendekat dan memperhatikan Scara mengukur bahan-bahan. “Ada yang bisa gue bantu nggak?” tanya Yuna. Dirinya mungkin tidak jago memasak seperti Scara, tapi setidaknya dia bisa membantu menyiapkan bahan dan melakukan hal-hal basic. “Nggak perlu. Lo bantu nyuci aja nanti. Mending lo sekarang kerjain PR fisika dulu, besok dikumpul dan gue yakin lo belum ngerjain sama sekali. Punya gue ada di kamar, baca dulu, kalau masih nggak paham gue jelasin nanti.”
Karena Scara menolak untuk dibantu, alhasil Yuna menunggu saja sambil menyalin jawaban PR punya Scara yang telah dikerjakan beberapa hari lalu. Cowok itu tahu betul Yuna paling payah dalam pelajaran fisika, sehingga ia berbaik hati membiarkan Yuna menyalin hasil pekerjaannya. Selesai menyalin, Yuna lanjut scrolling media sosial sampai Scara memasukkan adonan ke oven. Kemudian, Scara mengajari Yuna terkait PR fisika sampai brownies matang. Setelah browniesnya dingin, Yuna langsung menyantapnya dengan lahap. Brownies kali ini terasa lebih nikmat dari biasanya, mungkin karena Yuna memakannya sehabis hari yang melelahkan.
“Enak?” tanya Scara. Yuna mengangguk dengan antusias dan terus mengunyah. “Beneran kayak beli di toko. Enak banget. Sumpah gue bersyukur banget punya temen jago masak kayak lo, gue jadi sering makan enak. Masakin buat gue terus plis.” Mulut Yuna dimanjakan oleh manisnya brownies cokelat yang padat dan lembut. “Sumpah kalo brownies ini bentuknya orang, udah gue pacarin dari lama anjir. Cinta banget sama brownies apalagi yang tipe fudgy gini.” ujar Yuna. Sedari lama memang brownies selalu menetap di posisi pertama dessert terenak menurutnya. Seenak itu! Scara memperhatikan Yuna yang telah menghabiskan 4 potong brownies. Kalau brownies adalah orang, akan Yuna pacari katanya. “Kalau pacaran sama yang buat browniesnya, nggak mau?”
Hah?