Penulis: Miwa


Bagian 1: Iblis di Balik Wajah Seorang Adik

Bagi Gani, Satria bukanlah kakak, melainkan sebentuk kutukan yang bernapas. Satria adalah gumpalan daging anomali dengan sendi-sendi yang terkunci kaku, menyerupai ranting pohon yang mati. Gani membenci segalanya tentang kamar itu: bau apek minyak kayu putih yang bercampur dengan aroma obat-obatan kimia yang menyesakkan, hingga suara napas Satria yang berat dan berlendir, seolah-olah ada lumpur di dalam paru-parunya.

Setiap kali Ibu berangkat mencuci, rumah itu berubah menjadi ruang interogasi tanpa saksi. Gani sering kali menancapkan kuku-kukunya ke lengan Satria, memelintir kulit pucat itu hingga muncul memar kebiruan yang menyerupai bunga bangkai. Ia tertawa saat melihat wajah Satria memerah, otot lehernya menegang hebat, namun hanya mampu mengeluarkan erangan “ngghhh...” yang tersangkut di pangkal lidah.

Puncak kekejamannya terjadi saat jam makan. Gani akan menyodorkan sendok besi yang dingin, lalu menghujamkannya masuk ke dalam kerongkongan Satria. Ia menikmati sensasi saat sendok itu membentur dinding tenggorokan kakaknya, membuat Satria tersedak, matanya melotot putih, dan tubuhnya mengejang hebat karena refleks muntah yang tertahan.

"Kenapa kau tidak lenyap saja?" desis Gani tepat di depan lubang telinga Satria yang kaku. "Kehadiranmu itu cuma cara Tuhan untuk menyiksa hidupku."


Bagian 2: Pengkhianatan Terakhir

Mimpi Gani tentang Eropa bukan sekadar liburan; itu adalah pelarian dari rasa malu memiliki kakak "cacat". Ia tahu di mana Ibu menyembunyikan "nyawa" rumah ini: di bawah ubin yang retak di kamar Satria, tersembunyi dalam kaleng biskuit tua. Itu adalah uang tetesan keringat Ibu selama bertahun-tahun yang dikumpulkan demi satu tujuan: operasi saraf agar tangan Satria tidak lagi menekuk kaku dalam rasa sakit yang konstan.

Malam itu, hanya ditemani cahaya lampu 5 watt yang remang dan kuning, Gani mulai mencongkel ubin tersebut. Bunyi gesekan semen yang kasar memecah kesunyian. Satria terbangun. Matanya menangkap sosok adiknya yang sedang mencuri harapan hidupnya sendiri. Tubuh Satria bergetar hebat di atas kasur tipis yang berbau keringat. Ia mencoba mengeluarkan peringatan, sebuah suara serak yang terdengar seperti tangisan dari dasar sumur.

"Diam, atau kubuat kau tidak bisa bernapas selamanya!" bentak Gani.