
Kabar yang mengejutkan itu membuat gempar seluruh penggemar di dunia. Kabar yang tak pernah, sama sekali tak pernah kami duga.
Tak pernah ada dalam script kami.
Tak pernah sama sekali aku membayangkannya.
Jujur, sudah beberapa bulan terakhir ini aku tidak aktif, ataupun update tentang Enhypen. Kesibukan di sekolah benar-benar membuatku sepenuhnya teralihkan. Hanya sesekali aku melihat community group khusus untuk update info seputar Enhypen itu.
Tubuhku lemas begitu membaca informasi tentangmu.
Kamu keluar, dari Enhypen. Untuk selamanya. Satu detik, dua detik. Tiga detik kemudian, tangisku pecah. Seluruh kesedihan yang kurasakan ikut gugur saat itu juga.
Tidak, tolong katakan ini tidak benar.
Tak ada hentinya air mataku mengalir hingga sekarang. Napasku sudah tersendat-sendat. Dalam hati, aku menyesal. Mengapa aku tidak bisa mendukung kalian sepenuh hati? Mengapa begitu sudah menemukan kenyamanan yang lain, aku justru lupa pada kalian? Aku memukul-mukul kasur. Menjerit marah, meraung murka, bercampur dengan rasa sedih, penyesalan yang tak kunjung henti.
Kepalaku dalam sekejap langsung membayangkannya. Hari-hari dimana kita— Enhypen dan Engene masih utuh. Tidak, tidak. Itu baru saja kemarin. Itu masih kemarin. Aku menggelutukkan gigi, itu masih kemarin!
Kubayangkan bagaimana suaranya yang merdu selalu berhasil menenangkanku. Kubayangkan wajahnya yang penuh dengan ceria dan kebahagiaan itu. Satu tetes air mata lolos, diikuti dengan yang lainnya. Kubayangkan bagaimana ia berinteraksi dengan member yang lain. Dengan Jungwon, Jay, Jake, Sunghoon— yang pernah menjadikan Heeseung sebagai sandarannya saat ia menangis kala itu. Sunoo, Ni-ki. Mereka kehilangan kakak tertuanya. Begitu juga dengan kami.
Kubayangkan bagaimana spektakulernya ketika ia sudah menguasai panggung. Kubayangkan ketika ia bermain piano di bawah cahaya yang memeluknya itu. Kubayangkan tingkah-lakunya yang kadang kekanak-kanakan itu. Kubayangkan bagaimana ia selalu mengambil surat dari Engene ketika ada fanmeet, konser, atau di kesempatan apapun.
Terakhir, kubayangkan senyumnya. Yang selalu menerangi dunia. Yang selalu membuatku tertawa. Namun, sayangnya itu semua kini hanya kenangan. Kenangan yang pernah ada. Yang pernah hadir dalam hidupku.
Heeseung, ini untukmu.
Maaf ya? Maaf selama ini aku terlalu sering mengabaikanmu. Maaf kalau selama ini aku tidak mendukungmu dengan penuh. Maaf kalau selama ini aku tidak peduli. Maaf kalau selama ini aku mengabaikan semua pesan-pesan yang kau kirimkan di Weverse. Maaf ketika aku mengabaikan pesan yang kau tulis tangan, lalu sampai kepadaku lewat E-mail. Aku benar-benar sangat menyesal. Aku menyesal, sungguh sangat menyesal.
Terlalu sok sibuk, terlalu berkepala besar. Selalu melompat sebelum melihat.
Maaf kalau aku belum bisa menjadi Engene yang baik. Maaf kalau aku belum bisa mendukungmu sepenuh hati. Maafkan aku … sungguh aku minta maaf… Aku tahu padahal, kamu menyayangi kami semua dengan sangat tulus. Tapi apa yang aku lakukan? Aku bertindak seperti aku bukanlah bagian dari kalian. Maaf … maaf segala maaf… Maafkan aku, ya?