Naranaya merupakan seorang pengagum seni. Ketika mendengar karya-karya legendaris Vincent Van Gogh dipamerkan di Jakarta, walau hanya berupa proyeksi digital imersif, Naranaya tak mau melewatkannya meskipun bukan karya asli yang dipamerkan. Padahal, ia sudah pernah mengunjungi museum Van Gogh di Amsterdam, yang merupakan salah satu museum Van Gogh yang menyimpan koleksi asli terbesar yang ada di dunia. Namun bagi Naranaya, tak ada kata bosan untuk menikmati karya sang maestro.
Mungkin jika ia bisa, Naranaya ingin menyimpan salah satu karya Van Gogh di rumahnya. Kakek pria cantik itu juga pengagum seni, kakeknya sendiri merupakan seorang kolektor seni dengan koleksi seni bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah yang tersimpan apik dirumahnya. Sedangkan, ayahnya sendiri bukanlah sosok pengagum seni, oleh sebab itu darah seni yang mengalir dalam dirinya mungkin saja diwariskan oleh kakeknya.
Orang-orang kerap sekali bertanya, mengapa ia tak mengambil jurusan seni saja?
Pertanyaan itu kerap kali ia abaikan, namun terkadang ia juga menjawab; Seni adalah ekspresi jiwa yang bebas. Ia ingin membuat sebuah karya seni hanya untuk bersenang senang saja, tak ingin terbebani oleh tuntutan akademis, jadi melukis itu hanya sekedar hobi saja. Selain itu, dirinya ingin memahami makna hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Baginya, seni bukan hanya tentang keindahan visual, melainkan juga suara hati yang tak terucapkan, sebuah bahasa universal yang menyentuh jiwa tanpa perlu kata.
Sederhananya, Naranaya hanya ingin menjadi pengagum bukan pencipta.
Hari ini, pria cantik itu sudah berada di Van Gogh Alive jakarta. Ia sedikit menyesal datang di akhir pekan, karena di dalam ternyata cukup ramai oleh pengunjung. Namun, kekesalannya segera hilang saat memasuki ruang pameran. Harusnya ia membawa kedua orangtuanya, harusnya ia membawa Leon dan juga teman-temannya untuk menikmati karya-karya itu bersama.
Tapi, sendiri pun ternyata tidak seburuk itu.
Naranaya berjalan, mengelilingi area pameran dengan tatapan yang penuh akan kekaguman. Tak lupa, sesekali ia mendokumentasikan karya-karya itu. Setelah mengabadikan beberapa sudut pameran, Naranaya berhenti sejenak untuk membagikannya ke Insta story. Tak lama dari itu, Leon dan Lisa membalas Story nya, seusai membalas pesan untuk keduanya, pemuda cantik itu menyimpan handphone ke dalam saku celana dan melanjutkan langkahnya.
Kini ia dibawah proyeksi salah satu karya seni Vincent van Gogh yang paling terkenal yaitu The Starry night, lukisan yang diciptakan pada tahun 1889.
Lukisan ini adalah jeritan jiwa Van Gogh yang tertuang dalam goresan emosional. Dari balik jendela kamar rumah sakit jiwanya, menangkap malam itu bukan sebagai ketenangan, melainkan sebagai badai emosi kegelisahan. Lukisan ini bukan sekedar pemandangan, tapi jeritan jiwa yang terlihat. Setiap goresan mengungkapkan pergulatan batinnya antara kegilaan dan kegeniusan, antara keputusasaan dan harapan.
Naranaya melangkahkan kakinya perlahan dengan tatapan yang masih terpaku pada kemegahan yang berada dihadapannya.
Tiba-tiba,
Bruk
“Aduh.”
Bahu mereka bertabrakan.
Ah tidak, Naranaya tak sengaja menabrak seseorang.