tw! kekerasan dalam rumah tangga, academic pressure.

Di kamar dengan penuh tumpukkan buku yang entah sudah dibuka berapa kali, hingga beberapa halaman tercopot. Didampingi dengan segelas kopi yang selalu ada di sana, laptop menyala menampilkan video-video tutorial untuk mengerjakan beberapa soal serta memaparkan materi.

Tinta bolpoin yang sudah hampir diujung, pensil menumpul. Penghapus yang bahkan sudah terbagi menjadi dua, pena penyorot berantakan tak tertata rapih.

Jaiden menundukkan kepalanya dengan tangannya yang mengampu. Mengusap kedua matanya dengan kasar dengan dua tangannya itu. Mencoba menetralkan kedua maniknya yang mulai buram dan mengantuk, tidak bisa fokus.

Setelah di rasa netral, ia menatap pada depan tembok. Di sana banyak sekali foto-foto yang tercetak polaroid. Dari institut yang ia inginkan sedari sekolah menengah atas, foto bersama dengan alumni. Foto sesaat ia melihat pertunjukkan langsung di institut itu.

Terdapat jadwal bimbingan belajarnya dan jadwal sekolah, terdapat juga jadwal ujiannya yang entah dari kapan tidak pernah ia copot walau sudah ia lalui.

Kata-kata motivasi yang selama ini tak ada gunanya bagi Jaiden, motivasi yang berlaku hanya di saat ia menuliskannya. Jaiden menghela nafas, memandangi meja belajarnya yang berantakan. Sementara di dinding itu melihatkan impian yang harus terkubur jauh.

Bahkan ia juga tak tahu, siapa dirinya sesaat ini sekarang. Akankah hanya sarana pemuas ego dan mimpi orangtuanya serta orang sekitarnya, ataukah dirinya masih layak untuk dipanggil dengan nama Laksana Jaiden? Ia tak tahu, sungguh.

Beribu-ribu kali ia menatap pada cermin, hanya penuh kejijikan. Tubuhnya diperalat tanpa henti hanya untuk mengais impian seseorang. Hanya untuk mengejar universitas dengan fakultas yang sangat baginya mustahil untuk ditembus. Dan itu semua diperuntukkan satu validasi, yaitu “Supaya keluarga kita dipandang lebih baik.”

Katakanlah seporsi kekalahan.

Menari yang seharusnya membuatnya merasa bahagia, menari yang selalu berhasil membuatnya tersenyum. Tatapan harapan semangat dari anak kecil ataupun orang dewasa yang selalu ia perhatikan ketika dirinya menari, membuatnya hatinya terenyuh.

Berjalannya waktu, menari seperti dosa yang wajib ia hindari. Bahkan untuk menginjakkan kakinya pada ruang tari pun rasanya kejam. Seperti dirinya telah melakukan pembunuhan.

Namun yang selama ini terbunuh adalah Jaiden itu sendiri. Keadaan membunuhnya, impiannya membunuhnya, ia membunuh dirinya sendiri.

Tok! Tok! Tok! “Jaiden keluar kamu dari kamar! Segera!” Panggil seseorang, Jaiden mengerutkan keningnya terbingung. Mengapa ayahnya sudah pulang? Tak seperti biasa, pulang sesaat malam saja.

Jaiden berdiri dari kursinya dengan rasa pusing membuatnya terdiam sejenak untuk menetralkan tubuhnya. “Kak! Mbok gek ndang to!” Marah sang ayah dengan nada yang begitu tinggi. Jaiden berdecak, “iya lho yah” Jawabnya dengan nada yang sama.

Klek! “Ada apa to yah—“ PLAK! “Ayah! Mbok uwis to yah! Kakak i engga ada salah apapun yah!” Sahut sang bunda yang mencoba mendekat pada suami untuk menghentikan perlakuan sang ayah.

Jaiden membeku. Tak pernah terselip di bayangnya bahwa ayahnya akan menamparnya, di kondisi yang bahkan Jaiden dan ayahnya sedang perang dingin.

Kamu i diem aja to yo. Kamu i sama aja kayak anakmu yang engga guna ini!” Ujar sang ayah tepat di depan Jaiden. Sang ibu menangis tak sanggup suaminya mengucapkan hal tersebut pada anak pertamanya.

Kamu i opo bisa to kak, sehari engga malu-maluin keluarga? Malu-maluin nama ayah! Bisa-bisane kamu itu pakai orang dalam buat menang di lomba tari waktu di festival apalah itu. Kamu tau itu bikin nama ayah jelek to?? Kamu i mbok mikir sedikit to kak. Uang dari siapa kamu sampai bayar jurinya? Habis ngejual diri kamu?” Amarah sang ayah yang tak terkendali.