Carl rogers pernah mengatakan bahwa manusia hanya dapat berkembang ketika ia merasa aman menjadi diri sendiri. “When I accept myself, then I can change” kalimat tersebut sangat relevan dengan cara kita tumbuh, membentuk suatu hubungan, dan memahami luka yang kita bawa sejak kecil hingga kita dewasa.
Sejak kita kecil, setiap dari kita memiliki kebutuhan dasar untuk dicintai, dipahami, dan diterima apa adanya. Rogers menyebut ini sebagai need for positive regard. Tetapi tidaklah semua anak mendapatkan lingkungan yang benar-benar menerima emosi mereka. Ada anak yang saat menangis justru diminta untuk diam. Ada yang saat takut justru dianggap berlebihan. Ada pula yang hanya dipuji ketika kuat, mandiri, atau “tidak menyusahkan”
Pada situasi ini, anak belajar bahwa menunjukkan emosi bukan suatu hal yang aman. Kemudian ia belajar bahwa beberapa perasaan harus disembunyikan agar ia tetap dicintai atau tidak dimarahi. Proses inilah yang membuat real self, diri yang apa adanya perlahan dapat tertutup. sebagai gantinya, anak dapat membangun ideal self, yaitu versi diri yang ia pikir akan diterima orang lain: kuat, tenang, tidak merepotkan, atau selalu baik.
Masalahnya, ketikan seseorang tumbuh dengan jarak antara real self dan ideal self, ia mengalami apa yang Rogers sebut sebagai incongruence. Inilah kondisi ketikan kita “tidak sinkron” dengan diri sendiri. kita menampilkan wajah tertentu, tetapi sebenarnya merasakan hal lain. Kita terlihat mandiri, padahal sebenarnya membutuhkan dukungan. kita terlihat tenang, padahal sebenarnya takut.
Di titik ini banyak orang mulai merasa kehilangan diri sendiri tanpa disadari dan tumbuh dengan keyakinan “lebih aman kalau tidak bergantung atau berharap pada siapapun”
Sementara itu, teori attachment dari Mary Ainworth menjelaskan sisi lain dari proses ini. “Secure attachment grows from sensitivity.” Anak-anak yang memiliki pengasuhan sensitif dan responsif cenderung tumbuh dengan pola secure attachment, di mana mereka merasa aman untuk dekat dengan orang lain dan mengungkapkan kebutuhan. Sebaliknya, anak-anak yang memiliki pengasuhan dingin atau sering menolak emosi cenderung mengembangkan avoidant attachment, yaitu pola menjauh dari kedekatan “Avoidant infants minimize emotional display.” Sementara anak yang memiliki pengasuhan tidak konsisten bisa mengembangkan anxious attachment, yaitu pola melekat karena takut ditinggalkan “Anxious infants show heightened distress.”
Yang menarik adalah: pola-pola ini tidak hilang ketika seseorang dewasa. mereka ikut terbawa ke dalam hubungan romantis.
Seseorang dengan pengalaman penolakan emosional di masa kecil bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit membuka diri. Ketika pasangan mulai mendekat, ia merasa kewalahan dan memilih memberi jarak. Ia tidak melakukannya karena tidak peduli, tetapi karena kedekatan memicu rasa takut yang dulu pernah muncul ketika ia kecil. Ini terlihat seperti emotional avoidance, usaha untuk menjaga jarak agar tidak kembali merasakan sakit yang sama.
Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dengan ketidakkonsistenan bisa menjadi sangat cemas dalam hubungan. Ia takut ditinggalkan dan menjadi sangat bergantung secara emosional. Ia tidak menginginkan drama, tetapi tubuhnya merespons setiap perubahan kecil seolah itu ancaman kehilangan.
Hubungan dewasa pada akhirnya menjadi cermin yang memperlihatkan pola lama yang belum selesai. Bukan pasangan kita yang membuat kita bereaksi seperti itu, melainkan luka lama yang terbangun kembali.
Namun, Rogers juga menunjukkan bahwa proses pemulihan justru terjadi ketika seseorang akhirnya menemukan lingkungan yang aman. "Realness in a relationship is deeply healing." Ketika seseorang diterima, didengar, dan tidak dinilai, pertahanannya perlahan turun. Ia mulai berani merasakan emosi yang dulu ditolak. Ia mulai berbicara lebih jujur. Ia mulai membuka diri sedikit demi sedikit. Ia mulai mengenal kembali siapa dirinya sebenarnya. "I grow when I am open to my experience.”
Inilah proses yang Rogers sebut sebagai becoming a person—perjalanan menemukan kembali diri yang pernah hilang. Proses ini bukan tentang menjadi kuat dengan menekan emosi, tetapi menjadi kuat dengan memahami dan menerima emosi itu sebagai bagian dari diri.
Dalam hubungan yang sehat dan aman, seseorang bisa merasakan bahwa kedekatan tidak selalu berbahaya. Ia belajar bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Ia belajar bahwa ia bisa dicintai tanpa harus memalsukan dirinya. Ia belajar bahwa ia tidak lagi harus menjadi ideal self yang kaku, dan perlahan kembali pada real self yang lebih jujur dan hidup.
Pada akhirnya, yang membuat seseorang bisa dekat lagi dengan orang lain adalah ketika ia berhasil lebih dekat dengan dirinya sendiri. Dan itu mulai terjadi ketika ia tidak lagi hidup berdasarkan ketakutan akan penolakan, melainkan berdasarkan pemahaman bahwa dirinya layak diterima apa adanya.
Namun, ada situasi yang sering muncul dalam hubungan: seseorang menemukan pasangan yang membuatnya merasa aman, didengar, dan berani membuka diri. Namun justru setelah mulai bercerita, ia merasakan trigger yang kuat—kewalahan, takut, bahkan sakit secara emosional. Kadang ia tiba-tiba menghilang. Dari luar tampak membingungkan, tetapi menurut Rogers dan Ainsworth, ini sangat wajar.
Menurut Rogers, ketika seseorang menemukan hubungan yang aman, pertahanan yang dulu ia gunakan untuk bertahan mulai runtuh. Ketika pertahanan turun, bukan hanya kehangatan yang muncul, tetapi juga emosi-emosi lama yang pernah ditekan: takut, malu, cemas, dan ingatan menyakitkan tentang kedekatan yang tidak aman. Karena itu, kedekatan terasa menakutkan. Ada keinginan untuk tetap dekat, tetapi juga dorongan kuat untuk menjauh demi melindungi diri.
Dalam teori attachment, reaksi ini disebut aktivasi sistem attachment. Ketika seseorang dekat dengan figur yang aman, tubuh menganggapnya sebagai momen penting dan memanggil kembali pola lama. Jika dulunya mengalami penolakan, ia dapat menunjukkan pola avoidant: menarik diri, menghilang, atau shut down. Jika dulunya mengalami ketidakkonsistenan, ia dapat menunjukkan pola anxious: panik, takut kehilangan, atau merasa sakit emosional. Semua respons ini bersifat otomatis.
Itulah sebabnya seseorang bisa merasa "baik-baik saja" dalam hubungan sebelumnya yang datar, tetapi justru ter-trigger dalam hubungan yang aman. Hubungan yang dangkal tidak mengaktifkan sistem attachment, sehingga luka lama tidak tersentuh. Hubungan yang aman justru membuka pintunya dan inilah pintu menuju penyembuhan.
Ketika pasangan merespons trigger dengan konsistensi, empati, dan kehadiran yang stabil, tubuh perlahan belajar bahwa kedekatan kini aman. Bahwa hubungan saat ini berbeda dari pengalaman masa lalu. Di sinilah pola attachment dapat berubah.
Ketika semua ini hadir, hubungan bukan hanya menjadi tempat berbagi kebahagiaan, tetapi juga wadah di mana luka-luka lama akhirnya mendapat tempat untuk sembuh melalui kedekatan, kehangatan, dan penerimaan yang tidak menghakimi.