Pukul 1 siang, Mohan kembali ke rumah sakit. Jemarinya membawa kantong berisi buah segar dan makan siang untuk Aqeela—perhatian kecil yang ia bawa setelah menyelesaikan urusan yang selama ini mengganjal di benaknya.

Masalah dengan Risa sudah ditangani. Setidaknya, cukup untuk membuat Aqeela tidak lagi harus menanggung semuanya sendirian. Tapi perasaan yang mengikutinya sejak pagi belum juga reda. Ada sesuatu yang bertahan di dadanya—semacam dentuman lambat yang terus berulang. Karena untuk pertama kalinya, Mohan sadar: perasaan Aqeela ternyata sepenting itu untuknya.

Dan bukan cuma soal kemarahan. Tapi soal bagaimana selama ini Aqeela menyimpan ketakutan yang bahkan Mohan tidak pernah sanggup bayangkan ia bisa pendam sendirian.

Ketika ia melangkah masuk ke ruang rawat, Aqeela langsung menoleh dari kursinya. Di sisi tempat tidur, Saskia tengah duduk bersandar dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dibanding sebelumnya.

“Kak Mohan balik,” ujar Aqeela pelan. “Aku kira kakak nggak akan balik lagi.”

“Gue lupa ngasih ini.” Mohan mengangkat kantong makan dan buah di tangannya. “Tadi buru-buru, belum sempet pamit bener.”

“Buahnya buat gue?” Saskia menyeringai.

“Buat lo. Makan siang buat Aqeela.”

“Wah, gokil,” goda Saskia. “Gue sampe iri ngeliatnya.”

Aqeela hanya tertawa pelan dan menerima kotak makan dari tangan Mohan. Mereka berbincang sebentar, membahas kondisi Saskia dan rencana kontrol ke dokter, sebelum akhirnya Mohan melirik jam tangan.

“Gue ajak Aqeela keluar sebentar ya, Sas. Lo istirahat aja.”

“Silakan,” balas Saskia dengan senyum penuh makna. “Gue udah dapet vitamin cukup hari ini.”

Aqeela sempat memutar mata sekilas, tapi tidak membantah. Ia merapikan barang-barangnya lalu berpamitan, menyelipkan ucapan cepat sembuh untuk Saskia, sebelum akhirnya mengikuti Mohan keluar ruangan.

Mobil melaju dalam keheningan yang tidak terasa canggung. Dari jendela, langit siang masih terang walau tertutup sedikit awan. Aqeela melirik ke arah Mohan yang menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya bertumpu santai di lutut.

Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresinya—tenang, tapi terasa agak jauh.

“Kak Mohan,” Aqeela akhirnya bersuara. “Kakak nggak apa-apa?”

Mohan mengangguk pelan. “Nggak apa-apa. Cuma agak nggak enak badan.”

Tanpa pikir panjang, Aqeela menyentuhkan punggung tangannya ke kening Mohan. Gerakannya refleks—tulus, tanpa tendensi apa-apa.

Mohan menoleh sedikit, menatap Aqeela. Tidak menyingkir. Tidak bicara.

Aqeela buru-buru menarik tangannya. “Maaf… aku refleks.”