Aksel itu selalu mencari alasan jika akan diajak bertandang ke sebuah acara pernikahan. Menurutnya pernikahan itu tidak lebih dari acara-acara lain pada umumnya. Ia tetap diminta datang dengan mengenakan kemeja, tetap dipaksa untuk bercengkrama dengan yang katanya masih saudara, dan tetap duduk bosan menunggu sesi foto bersama.

Aksel tidak tertarik dengan perayaan-perayaan semacam itu. Dirinya enggan direpotkan dengan prosesi-prosesi yang rumit dilakukan.

Namun, Aksel sepertinya harus bersedia menelan mentah-mentah anggapannya tentang perayaan pernikahan. Karena yang terjadi sekarang justru kebalikan dari semua hal yang telah ia sebutkan di awal.

Tidak ada Aksel yang susah payah mencari alasan untuk tidak datang.

Tidak ada Aksel yang bosan menunggu sesi foto tiba.

Tidak ada Aksel yang mendumal sepanjang acara.

Yang ada hanyalah Aksel yang berulang kali usapkan telapak tangan ke tuxedo yang ia kenakan lantaran sejak tadi telapak tangannya lembab oleh keringat.

Yang ada hanyalah Aksel yang berulang kali mematut diri di cermin meski papanya sudah bilang ia terlihat menawan.

Yang ada hanyalah Aksel yang degup jantungnya bertalu-talu kencang dan kepalanya dipenuhi skenario-skenario yang membuatnya kian gelisah.

Pintu dibuka dan cepat-cepat kepalanya menoleh ke sana. Raline berdecak melihat putranya yang jauh dari kata siap untuk naik ke altar. Dihampiri lah lelaki yang sejak tadi tanpa sadar terus-terusan menggerakkan kaki.