Yūzuha Megumi. Memiliki rambut pendek bersurai biru dengan mata merah darah. Saat usianya menginjak lima tahun, ia sudah diperkenalkan dengan Tuan Muda dari keluarga besar dinasti konglomerat, Eichi Tenshouin. Kejadiannya cepat sekali lewat, di umur yang masih belia itu, keduanya sudah menjalin hubungan menuju jenjang pernikahan politik antar keluarga.

Eichi merupakan bocah yang sakit sakitan. Ia jarang sekali ikut dalam acara pesta, penyakit turun temurunnya membuatnya terbaring di kasur rumah sakit hampir di segala situasi. Di gelapnya lorong rumah sakit, Yuu selalu datang dan menceritakan harinya disana. Hanya berdua, suara tawa anak kecil yang penuh harapan akan kehidupan.

Dari rutinitas itu, mereka berdua sama-sama jatuh kasih, Yuu yang menganggap Eichi sebagai anak usil menggemaskan yang kadang merajuk karena hal kecil, dan Eichi yang di lubuk hati terdalamnya menganggap Yuu sebagai dewi-nya. Dewi yang dilahirkan hanya untuknya. Miliknya seorang, yang akan ia cium segala langkah kehidupannya.

Walau terkadang, Eichi merasa cemburu akan kawanan Yuu di luar sana, yang selalu Yuu ceritakan dengan dengan semburat merah kecil di wajah polosnya. Dari sudut pandangnya, terlihat jelas bahwa Yuu jauh lebih senang menghabiskan waktu dengan teman-temannya dibanding dia. Tentu saja, hal ini tak pernah ia tuturkan secara langsung. Ia hanya akan cemberut dan tiba-tiba menggandeng tangan Yuu, mengalihkan pembicaraan mereka ke arah lain. Eichi merasa ingin memonopoli perhatian Yuu, anak berusia enam tahun itu ingin Dewinya hanya menatap dirinya seorang.

Namun, waktu senang tak berlangsung lama. 7 tahun kemudian, kabar bahwa ayah dari Yuu ditangkap karena dugaan suap membuat semuanya kacau. Investor dan partner bisnis mereka mundur, bank menagih pinjaman, kreditur langsung membuat jatuh tempo pada utang-utang mereka. Perusahaan yang dikelola keluarga Megumi dinyatakan pailit utang. Aset keluarga digadai untuk membayar semua utang itu. Status sosial keluarga runtuh. Utopia yang mereka impi-impikan tercerai berai.

Pertunangan mereka dibatalkan.

Seharusnya.

Tidak, Eichi tidak bisa melepaskan Yuu begitu saja.

Eichi Tenshouin selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Sejak kecil, tubuhnya mungkin lemah, tetapi tekadnya lebih kuat dari siapa pun. Salah satu keinginannya yang paling besar, satu-satunya hal yang tidak bisa ia lepaskan, adalah Megumi Yuzuha. Sejak mereka kecil, sejak Yuu dengan polosnya datang dan menceritakan segala hal kepadanya, ia tahu bahwa gadis itu adalah miliknya. Dan sebagai miliknya, Yuu tidak boleh pergi. Tidak boleh memiliki kehidupan di luar dirinya. Tidak boleh mendahulukan siapa pun selain dia.

Keputusan itu diganggu oleh Eichi, ia melakukan segala cara untuk menyabotase dirinya sendiri—tidak makan, maupun minum obat— sebagai upaya untuk membuat keluarga Tenshouin sepakat membantu keluarga Megumi. Tentu itu semua keluar dengan syarat. Yuu harus ikut ke mana pun Eichi pergi, menuruti semua keinginannya dan keluarganya tidak bisa ikut campur atas keputusan yang dibuat oleh keluarga Tenshouin. Ibu Yuzuha yang sedang terpojok oleh krisis finansial, langsung menandatangani kontrak dengan harapan bahwa Yuu tidak akan diganggu dan dapat menjalani pendidikannya dengan lancar dalam naungan Tenshouin.

Dengan ini, Eichi resmi ‘memiliki’ Yuu.

Bukan sebagai tunangan, tapi sandera.

Yuu yang saat itu berusia tiga belas tahun, tidak paham apa yang terjadi. Yang jelas, ia dipaksa pindah ke sekolah yang sama dengan Eichi secara tiba-tiba. Sepulang sekolah, ia dijemput oleh supir pribadi Eichi. Semuanya dijelaskan di dalam mobil. Yuu menatap Eichi dengan dengan tatapan seseorang yang hampir mati. Ibunya tak sanggup menahan semua beban hutang yang dijatuhkan oleh kreditur pada keluarganya, lalu dengan mudah menjualnya kepada keluarga Tenshouin.

Yuu merasa perutnya sakit, semuanya terasa seperti mimpi, tidak mungkin ini terjadi. Namun, tangan dingin Eichi yang menyapu air matanya terasa sangat nyata.

Beberapa tahun berlalu, Yuu menuruti semua keinginan egois Eichi, tanpa pengecualian. Dan semua ini membuatnya berpikir, apakah ia masih menyukai Eichi? Apakah hubungan ini benar-benar transaksional?

Tapi semua pertanyaan itu terkubur tatkala anak laki-laki pirang itu memeluk tubuh ringkihnya, mengusap tubuhnya, dengan buah ceri di atasnya,

“Gadis pintar.”

Gadis pintar.