By: Stay Gold

“May all the beauty be blessed”

Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa kota dikala cahaya pagi mulai menyinari dunia, mengalahkan gelap dari malam. Para jiwa yang terlelap dalam mimpinya mulai bangkit dan bersiap untuk menjawab panggilan tugasnya masing-masing. Namun, terdapat satu entitas yang masih saja larut dalam mimpi dan tidak mau bangkit darinya. Kiana Kaslana, siswi berambut putih panjang dari akademi St. Freya, masih saja bermalas-malasan di tempat tidurnya dan nampak tidak berniat untuk segera memulai harinya. Namun, seorang perempuan dengan rambut ungu gelap panjang dan sepasang mata berwarna indigo kemudian membuka pintu kamarnya dan memintanya untuk segera bangun. Sosok perempuan tersebut tidak lain adalah Raiden Mei, teman satu kelas serta sahabat sehati Kiana. Dengan mengenakan apron memasak dan membawa sebuah spatula, Mei berbisik dengan lembut di salah satu telinga Kiana untuk membangunkannya yang diiringi dengan iming-iming sarapan pagi yang menggoda. Mendengar hal tersebut, Kiana segera terbangun dari mimpinya ketika mendengar godaan tersebut. Mei hanya bisa tertawa kecil melihat hal tersebut yang juga diikuti oleh Kiana.

Nasi putih hangat, sup miso dengan tahu putih, telur tamagoyaki dengan ayam lada hitam, bok choy kukus, dan teh hijau hangat menjadi menu sarapan hari ini. Kiana dengan mulut yang berair langsung menyantap sarapan tersebut bersama dengan Mei. Sembari menikmati sarapannya, Kiana tidak lupa untuk selalu memuji masakan Mei yang selalu nikmat. Setelah menghabiskan seluruh menu sarapannya, Kiana dan Mei segera bergegas menuju St. Freya untuk memulai hari mereka sebagai seorang pelajar. Disaat yang bersamaan, tiga orang siswi lainnya juga keluar dari kamar asramanya yang berada di samping persis dari kamar milik Kiana dan Mei. Ketiga siswi tersebut tak lain adalah Bronya, salah satu siswi terpintar dan jago teknologi, yang tengah berjalan dengan Seele dan Veliona, saudari kembar yang saling menyayangi satu sama lain. Sama seperti Kiana dengan Mei, hubungan Bronya dengan Seele dan Veliona juga sangat dekat dan nampak tak dapat terpisahkan dari satu sama lain.

“Selamat pagi Bronya-chan, Seele-chan dan Veliona-chan” ucap Mei dengan senyum hangatnya.

“Mei-nee-sama, selamat pagi” ucap Bronya yang terkenal dengan rambut abu-abu muda yang diikat dengan gaya twintails dan digulung menjadi bentuk spiral seperti “drill”. “Mei-onee-chan, selamat pagi~” ujar Seele dan Veliona yang saling berpegangan tangan satu sama lain.

Bersama dengan Bronya, Seele dan Veliona, Kiana dengan Mei memulai perjalanan mereka menuju akademi. Selama perjalanan menuju ke akademi, mereka saling bercanda gurau dan membahas trending topic yang ada di media sosial. Tak hanya itu, mereka juga membahas aneka makanan dan café yang tengah viral. Ditengah perjalanannya, mereka juga bertemu dengan siswi St. Freya lainnya, termasuk Fu Hua dan Senti, saudari kembar yang juga satu kelas dengan Kiana dan lainnya. Disaat Fu Hua menjadi sosok ketua kelas yang disiplin dan taat aturan, Senti justru sebaliknya dan menjadi salah satu sosok yang sering bikin onar dan harus berurusan dengan Fu Hua di ruang BK. Tak lama kemudian, mereka tiba di akademi dan segera menempatkan tasnya di kelas dan mejanya masing-masing. Sama halnya dengan pembagian kamar asrama, posisi meja Kiana dengan Mei selalu bersebelahan serta Bronya dengan Seele dan Veliona yang juga bersebelahan. Setelah berbincang sebentar, waktu upacara pagi telah tiba dan semua siswa dan siswi diminta untuk ke lapangan upacara.

Cahaya matahari menyinari St. Freya disaat upacara pagi telah dimulai. Seperti biasa, upacara pagi selalu dipimpin oleh OSIS dan kepala sekolah Theresa Apocalypse yang menjadi pembina upacara serta teman masa kecil ibunya Kiana dan sepupu ayahnya Kiana. Sebagai pemimpin upacara adalah Kevin Kaslana, ketua OSIS dan sepupu Kiana yang juga berasal dari keluarga yang sama. Ditugaskan sebagai MC adalah Elysia, wakil ketua OSIS dan teman masa kecil Mei. Kiana sebenarnya ingin pura-pura pingsan supaya dirinya dapat dibawa ke dalam UKS, namun dirinya mengingat bahwa yang bertugas menjadi petugas kesehatan untuk upacara hari ini adalah Vill-V dan Mobius, yang terkenal suka bikin eksperimen yang aneh-aneh dan onar di UKS, berbeda dengan Eden atau Aponia yang pasti merawat dengan sungguh sungguh. Mau tak mau, Kiana harus menahan panasnya matahari di pagi itu hingga selesai. Beruntungnya, upacara kali ini berlangsung cukup cepat sehingga Kiana dapat segera kembali ke kelas.

Pelajaran pertama pada kali ini adalah matematika, salah satu mata pelajaran yang tidak disukai oleh Kiana. Dirinya tidak menyukai hitung-hitungan yang terlalu panjang dan memusingkan. Untungnya, guru pengampu mata pelajaran kali ini tak lain dari wali kelas Kiana, yaitu Murata Himeko atau Himeko-sensei. Walaupun sering minum-minuman beralkohol hingga mabuk, Himeko tetap menjadi salah satu guru yang dapat diandalkan dan sangat peduli terhadap murid-muridnya di dalam kelasnya.

“Selamat pagi semuanya” ucap Himeko yang memasuki ruangan kelas dengan membawa beberapa kertas misterius yang membuat beberapa siswa dan siswi bertanya-tanya. “Selamat pagi, Himeko-sensei” ucap seluruh siswa dan siswi kelas. Biasanya, Himeko membawa beberapa buku pelajaran pada umumnya atau sebuah botol minum yang isinya alkohol, tapi kali ini dirinya membawa tumpukan kertas misterius.

“Mungkin kalian semua bertanya-tanya kenapa hari ini aku membawa banyak kertas kan? Karena hari ini kita akan ada kuis dadakan”

Pernyataan tersebut secara instan membuat semua siswa dan siswi dalam satu kelas terkejut dan panik. Di satu sisi, wajah Kiana langsung memucat dan dingin saat mendengar bahwa akan ada kuis dadakan dan di mata pelajaran yang tidak dia sukai. Dirinya mencoba untuk kabur dari kelas, tapi Himeko sudah mengetahui rencana tersebut karena Senti juga sudah pasti akan melakukan hal yang sama. Akhirnya, Himeko meminta meja dan kursi yang tertancap di lantai dan borgol untuk kaki Senti dengan tujuan untuk membuat Senti tetap berada di dalam kelas dan tidak kabur. Tak hanya itu, Himeko juga mengubah posisi tempat duduk dengan memisahkan Mei dari Kiana, Seele dari Veliona serta menempatkan Bronya paling jauh dari siswa dan siswi lainnya. Himeko mulai membagikan kertas kuis yang berisi 10 pertanyaan dan segera memulai kuis dengan waktu sekitar 2 jam. Dua pertanyaan pertama cukup mudah bagi Kiana dan segera dia jawab dengan mudah. Namun, memasuki pertanyaan kelima dan seterusnya, dirinya mulai merasa kebingungan karena soal yang diberikan sudah mulai kompleks. Disaat Kiana mulai kebingungan, Mei masih tetap fokus untuk mengerjakan setiap soal dan Bronya mengerjakannya dengan cukup mudah. Tak lama kemudian, Bronya mampu menyelesaikan seluruh soal kuis dan mengumpulkannya kembali ke Himeko.

“Sudah selesai? Memang hebat kamu Bronya”

Melihat hal tersebut, jiwa bersaing Kiana langsung menyala dan dirinya mulai mengerahkan seluruh kemampuan otaknya untuk mengerjakan soal-soal lainnya. Menjelang waktu akhir, Kiana semakin memfokuskan dirinya untuk mencoba menyelesaikan seluruh sisa soal yang masih belum terjawab. Melihat hal tersebut, Mei hanya bisa tersenyum dan menyelesaikan sisa soalnya juga.

“Semangat Kiana, kamu pasti bisa” ucap Himeko sembari mengecek pekerjaan siswa dan siswi lainnya.

Waktu untuk mengerjakan kuis telah usai dan semua siswa dan siswi diminta untuk segera mengumpulkan kertas jawabannya. Dengan satu tulisan terakhirnya, Kiana dengan terburu-buru beranjak dari kursinya dan segera mengumpulkan kertas jawaban miliknya. Namun, kakinya secara tidak sengaja terpeleset dan membuatnya hampir terjatuh ke lantai. Untungnya, Himeko melihat hal tersebut dan segera menahannya agar tidak terjatuh.

“Kamu nggak kenapa-napa kan Kiana?” ucap Himeko sembari menolong Kiana.

“A-Ah aman kok Himeko-sensei, terima kasih ya udah mencegahku terjatuh tadi.”