Sanya membawa langkah kakinya keluar dari lift. Menyusuri lorong dengan tangan yang sedikit gugup. Oh please jangan hujat dia oke?

Meskipun berbekal bohong pada Faras bukan berarti nyali Sanya tak ciut. Hujan dan nekatnya membawa langkan kaki berdiri tegak didepan pintu apartemen Dipta adalah rencana paling gila yang menurutnya jadi satu-satunya wishlist yang harus ia tunaikan hari ini juga.

Dan benar kata Dipta, cuaca hujan malah membuatnya makin deg degan dan merinding. Sanya menekan kombinasi angka password dari unit 202. Sukses.

Ulang taun dia bukannya dua puluh maret ya, kok sebelas?

Tapi Sanya tak pikir panjang, ia menyusuri lorong unit, sedikit menoleh melihat sekitar, kosong, penghuninya tak terlihat.

Sanya meletakkan sekotak donat diatas meja makan. Ia menoleh pada ruang sebrang. Pikirannya langsung terlintas pada kamar Dipta.

“Mas?”

“Mas Dipta?”

Panggilnya sambil berjalan menuju kamar. Tangannya bergerak membuka kenop pintu, “mas Dip—”

Kalimatnya menggantung begitu melihat pemilik kamar tertidur dengan selimut membungkus tubuhnya. Sanya mencari jam dinding untuk melihat selisih menit mereka chattingan.

Beda lima belas menit udah tidur?

Sanya masuk dan menutup pintu pelan-pelan. Kakinya mendekat kearah kasur, mendudukkan dirinya tepat disamping Dipta.

Sanya diam sebentar, memandangi diantara remang lampu kamar dan cahaya matahari. Kulit Dipta yang sedikit memerah. Telapak tangannya bergerak menyibak rambut yang menghalangi dahi Dipta.

Anget dikit

“Kak bangun, makan siang dulu ga?”

Sanya mengusap lengan Dipta, sesekali memberi pijatan kecil.

“Kak badan lo masih agak anget”

Sebuah sautan berupa gumaman keluar sangat lirih dari bibir Dipta.

“Makan kak, minum obat”

Dipta malah menarik Sanya membuat tubuhnya hilang keseimbangan, “kak?”