
Tuk…
Sret…
Sret…
Suara guratan pulpen di atas kertas putih terdengar nyaring di kamar dengan nuansa abu-abu itu. Jari-jari pemiliknya berkali-kali menggurat angka demi angka hingga sebuah jawaban akhir berhasil di dapatkan, masih ada 5 soal lagi yang belum ia kerjakan dari total 15 soal matematika.
Adhira meregangkan sedikit bahu nya yang terasa kaku karena sudah terlalu lama duduk di kursi meja belajarnya. Ia melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya—pukul 16.00 pm.
“Abang!”
“Bang Dhira!”
“Iya, Bunda sayang?” Adhira segera keluar dari kamar dan menyahut ketika tau itu suara bunda yang memanggil dirinya.
Sang bunda—Arjuna yang sedang mencuci sayur di dapur menoleh lalu meminta tolong pada sulung nya itu.
“Bunda bisa minta tolong jagain Nika main di teras belakang? Bunda mau masak makan malam, boleh ya, sayang.”
Adhira terdiam, dia teringat PR nya yang belum selesai dan menatap ketiga adik nya yang lain sedang sibuk dengan urusan nya sendiri. Contohnya seperti Abhian yang sibuk mengerjakan tugas, Arkandra dengan game di handphone nya, dan Arnavi dengan gitar kesayangan nya.
Jika boleh saja ia mengeluh, ia ingin mengatakan, “Kan yang lain kayak Andra sama Navi bisa dimintain tolong, Bunda,” namun hal itu hanya tersimpan rapat di hatinya, dirinya mengangguk dengan senyum.
“Oke, Bunda”
Nggak papa Adhira…
Artinya kamu itu dipercaya…
Adhira duduk di teras belakang, menatap Arunika yang sedang asyik mengejar kupu-kupu lalu mulai memetik beberapa kuntum bunga asoka. Si bungsu itu adalah satu-satunya princess kecil di rumah ini, dan wajahnya mirip sekali dengan sang Bunda.
Adhira tersenyum tipis, tapi tatapan mata nya memancarkan kelelahan. Lalu sekarang ia bisa mendengar suara ricuh Akandra yang lagi heboh—kemungkinan game nya menang dan suara tenang alunan gitar Arnavi yang mengisi sore itu.
Huft…