Jihoon menggenggam erat tangan seseorang di sisinya. Ia menghela napas, tak benar-benar paham dengan jalan pikirannya. Bisa-bisanya ia membawa orang itu ke tempat ini—tempat yang seharusnya sudah menjadi kepingan masa lalu bagi Jihoon. Ia pun memaki dirinya sendiri habis-habisan di dalam hati.

“Ji? Kita mau berdiri di sini sampai kapan?” tanya orang itu.

Jihoon sedikit tersentak, lalu menoleh dengan sebuah senyuman kaku. “Eh? Oh, iya. Ayo, masuk.”

Begitu melangkah masuk, mata Jihoon otomatis menyusuri tiap inci interior dari tempat ini—sebuah kafe yang letaknya tak begitu jauh dari kampusnya dulu. Jihoon tersenyum tipis. Ternyata tak ada yang berubah di sini. Meja, kursi, hingga pencahayaan hangat yang menggantung rendah; semuanya terasa familiar bagi Jihoon.

Bahkan setelah hampir delapan tahun berlalu, tempat ini masih saja terasa sama.

Namun sedetik kemudian, kepalanya tertunduk, menyadari ada satu hal yang jelas-jelas tak lagi sama—sebuah perubahan besar dalam hidupnya, dan kafe ini yang menjadi saksinya.

Genggaman tangan Jihoon mengerat tanpa sadar, sedikit mengagetkan bagi tangan lainnya.

“Ji? You okay?” tanya seseorang yang bersamanya. “Kamu kalau lagi sakit harusnya bilang aja, Ji. Nggak usah maksain pergi begini.”

“Eh, enggak.” Jihoon buru-buru menggeleng. “Maaf. Aku nggak apa-apa, kok.”

“Kamu duduk aja, ya? Biar aku yang pesan,” lanjut Jihoon, tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepala lelaki bertubuh mungil yang spontan mengangguk setuju.