Penulis: Miwa


Sebuah kisah tentang ingatan, rasa bersalah, dan hari keberangkatan yang tak pernah benar-benar terjadi.


Bagian 1 — Keberuntungan yang Terlambat

Rani (22 tahun) berdiri terpaku di depan gerbang Leiden University, Belanda. Angin musim dingin menyelinap ke balik jaketnya, menggigit kulit, tapi rasa dingin itu tidak seberapa dibandingkan berat memori yang ia bawa. Udara terasa asing, seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin diingat siapa pun.

Di tangannya, sebuah amplop cokelat tua yang sudah lecek dan menguning. Kertasnya terasa rapuh, seolah sudah terlalu sering dibuka dan dilipat oleh tangan yang gelisah. Itu bukan surat penerimaan atas namanya, melainkan milik kakaknya, Aris, yang hilang secara misterius sepuluh tahun lalu—tepat di hari keberangkatannya ke tempat ini.

Rani datang ke Belanda bukan untuk belajar. Ia datang untuk menuntaskan sesuatu yang tidak pernah selesai. Selama sepuluh tahun, hidupnya terkurung dalam kesedihan Ibunya, dalam nama yang selalu dipanggil di tengah malam: Aris. Rani yakin kakaknya tidak pernah menghilang. Seseorang telah merenggutnya—mencuri masa depan yang seharusnya menjadi milik Aris.


Bagian 2 — Sang Profesor

Rani menyusup ke perpustakaan tua kampus. Ruangan itu terlalu sunyi, seperti tidak terbiasa menerima pengunjung. Cahaya lampu menggantung dingin di atas rak-rak buku yang tinggi, membuat bayangan memanjang di lantai.

Di sana ia menemui Profesor Van de Berg, nama yang tercantum sebagai pembimbing Aris di surat itu. Profesor itu sudah sangat tua, duduk di kursi roda yang berderit halus setiap kali ia bergerak. Matanya memutih karena katarak, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Rani merasa sedang dilihat lebih lama dari yang seharusnya.

“Aris?” gumam Profesor itu saat Rani menyebutkan nama kakaknya.