Refleksi Quarter Life #1
“Untuk Kamu yang Sedang Bingung di Usia 20-an”
Di usia 20–30 ini, aku gak tahu pasti apa yang sedang kamu rasakan… Tapi aku bisa membayangkan: mungkin ada banyak hal yang sedang kamu pikirkan diam-diam. Tentang hidup, masa depan, tentang diri sendiri, dan segala hal yang kadang datang bertubi-tubi. Dan dari kejauhan… aku cuma ingin menguatkanmu. Bukan dengan petuah, tapi dengan sedikit cerita dari sisi lain kehidupan yang juga sedang aku pelajari.
Di umur itu memang titik yang unik — kadang membingungkan, kadang melelahkan. Fase yang orang sebut sebagai quarter life: Mulai mempertanyakan arah hidup, meragukan diri, merasa tertinggal, membandingkan dengan orang lain, gelisah soal masa depan, finansial, jodoh, dan segala macam hal.
“Aku udah punya apa?” “Kenapa aku masih di sini, sementara orang lain sudah ke mana-mana?”
Kalau kamu pernah merasa begitu… kamu gak sendiri. Aku pun pernah.
Tapi satu hal yang pelan-pelan aku pelajari — dan ingin aku bagi ke kamu — adalah ini:
Yang paling penting untuk dimiliki di usia seperti ini… bukan pencapaian, tapi kesadaran diri dan reflektifitas hati.
Sadar bahwa kita ini lemah, terbatas, dan sangat butuh sandaran. Sadar bahwa kita gak harus selalu tahu semuanya, dan gak harus selalu kuat. Karena saat kita tahu batas kita, justru di situ kita bisa benar-benar berserah — bukan menyerah.
Kesadaran itu juga yang pelan-pelan mengajarkan kita untuk mengenali pola hidup, luka lama, atau kebiasaan yang mungkin harus mulai diubah. Supaya kita gak hidup hanya karena tekanan orang, ekspektasi sosial, atau sekadar ikut tren.
Tapi hidup dengan arah. Dengan ketenangan.
Dan yang paling penting… Kesadaran itu menuntun kita kembali kepada Allah. Membuat doa terasa lebih jujur. Hati jadi lebih lembut menerima nasihat. Diri jadi lebih tenang menghadapi dunia yang penuh tekanan.
Tanpa itu, seseorang bisa terlihat berhasil, tapi kosong. Tampak kuat, tapi rapuh di dalam. Sudah dewasa secara usia, tapi belum matang secara jiwa.
Aku gak tahu ke arah mana hidupmu akan berjalan nanti. Tapi satu hal yang aku yakini, sama seperti arah tumbangnya pohon yang selalu mengarah ke sisi mana ia condong… Begitu juga kita, akan “jatuh” ke arah mana kita bersandar.