pexels-cookiecutter-1148820.jpg

Dalam dunia kesehatan yang kian digital, data bukan sekadar angka atau catatan medis yang tersimpan di lemari arsip. Secara fundamental, basis data atau database dapat didefinisikan sebagai sekumpulan data atau informasi yang disusun secara sistematis dan disimpan secara digital di dalam komputer. Bayangkan basis data sebagai sebuah perpustakaan raksasa yang sangat rapi, di mana setiap buku, bab, hingga baris kalimatnya ditempatkan di lokasi yang spesifik sehingga dapat dicari, diakses, dan dikelola dengan sangat cepat. Di lingkungan medis, basis data menjadi tulang punggung yang memungkinkan hasil laboratorium, dosis obat, hingga riwayat alergi pasien saling terhubung secara akurat, mencegah terjadinya kesalahan fatal yang bisa mengancam keselamatan jiwa.

1.1. Data, Informasi, dan Pengetahuan

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering menganggap kata "data" dan "informasi" sebagai hal yang sama. Namun, dalam dunia teknologi informasi, keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

1.1.1. Data

image.png

Data adalah fakta mentah yang belum diolah dan belum memiliki makna yang spesifik bagi penerimanya. Bayangkan Anda melihat catatan dokter bertuliskan angka "39". Angka ini hanyalah sebuah data. Tanpa konteks, angka 39 tidak memberi arti apa-apa; bisa jadi itu ukuran sepatu, umur, atau nomor antrean.

1.1.2. Informasi

image.png

Informasi adalah hasil pengolahan data yang sudah diberikan konteks sehingga menjadi bermakna. Jika angka "39" tadi kita beri konteks menjadi "Suhu tubuh pasien 39°C", maka data tersebut berubah menjadi informasi yang berharga. Informasi ini memberitahu kita bahwa pasien sedang mengalami demam tinggi dan memerlukan penanganan segera.

1.1.3. Pengetahuan

image.png

Melangkah lebih jauh dari informasi, kita akan sampai pada tahap pengetahuan atau knowledge. Pengetahuan tercipta ketika kita mampu menghubungkan berbagai informasi untuk membentuk sebuah pemahaman atau pola tertentu. Sebagai contoh, jika seorang dokter melihat informasi bahwa tekanan darah pasien terus meningkat selama tiga hari berturut-turut meskipun telah diberikan obat anti-hipertensi, dokter tersebut akan menggunakan pengetahuannya untuk menyimpulkan adanya resistensi obat atau potensi komplikasi lain.

1.2. Dari File Tradisional ke DBMS

image.png

Pada masa awal digitalisasi kesehatan, banyak institusi medis mengandalkan sistem pemrosesan berkas tradisional. Dalam metode ini, setiap departemen menyimpan data mereka sendiri dalam file teks atau lembar kerja terpisah seperti Excel. Meskipun terlihat sederhana, pendekatan ini menciptakan pulau-pulau informasi yang terisolasi. Jika seorang pasien mengubah alamat rumahnya, staf administrasi mungkin memperbarui datanya, namun data di bagian farmasi tetap menggunakan alamat lama. Inilah yang disebut dengan redundansi data, yaitu penggandaan data yang sama di berbagai tempat berbeda. Redundansi ini bukan hanya membuang ruang penyimpanan, tetapi juga memicu inkonsistensi data, di mana satu pasien memiliki dua informasi yang berbeda dalam satu institusi, yang pada akhirnya dapat membingungkan proses administrasi dan medis.

image.png

Menanggapi berbagai kelemahan tersebut, lahirlah pendekatan modern yang dikenal sebagai DBMS (Database Management System). DBMS adalah perangkat lunak yang berfungsi sebagai perantara antara pengguna dengan basis data itu sendiri. Berbeda dengan sistem lama, DBMS menerapkan prinsip kemandirian data, di mana struktur data dipisahkan dari aplikasi pengguna. Hal ini memungkinkan banyak departemen untuk mengakses sumber data yang sama secara serentak tanpa risiko tumpang tindih. DBMS secara otomatis menjaga agar tidak ada data yang ganda (mengurangi redundansi) dan memastikan bahwa setiap perubahan data di satu pintu akan tercermin di seluruh sistem (menjaga konsistensi).

Dalam konteks layanan kesehatan, penggunaan DBMS memastikan bahwa dokter di ruang periksa, perawat di bangsal, dan apoteker di instalasi farmasi melihat satu "versi kebenaran" yang sama mengenai kondisi pasien. Integrasi ini meminimalkan risiko kesalahan manusia dan mempercepat waktu respons medis. Dengan DBMS, sistem informasi kesehatan tidak lagi hanya sekadar tumpukan file elektronik, melainkan sebuah ekosistem informasi yang cerdas, aman, dan terintegrasi yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan medis yang terus berkembang.

1.3. Abstraksi Data