
— Gia
Jarum jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Hening. Bau obat-obatan yang tajam perlahan tersamarkan oleh aroma musk dan sandalwood yang sangat gue kenal — aroma Mas Radyta.
Gue pikir setelah pertemuan gue dengan Kafi siang tadi, gue bisa langsung menjelaskan semuanya. Gue pikir gue punya kesempatan untuk memperbaiki benang kusut ini. Tapi nyatanya enggak.
Ketika Mas Radyta kembali tadi sore, dia nggak sendirian. Dia membawa Ibunya — Tante Aira — yang baru mendarat dari Bandung. Mas Radyta berubah menjadi mode “menantu idaman”. Dia tersenyum sopan, mengurus koper, memastikan Tante Aira duduk nyaman, tapi dia sama sekali tidak menatap mata gue.
Dan setelah mengantarnya pulang ke hotel, dia tidak kembali ke kamar ini selama berjam-jam.
Sekarang, saat gue terbangun karena rasa nyeri di rusuk, gue melihatnya. Di sudut ruangan yang remang-remang, beralaskan sajadah yang dia bawa dari rumah, Mas Radyta sedang duduk di antara sujudnya. Punggung tegap yang biasanya menjadi sandaran gue itu kini terlihat rapuh. Bahunya berguncang hebat.
Dia menangis. Laki-laki yang tersenyum selama gue mengenalnya itu, kini itu sedang menangis sendirian dalam doanya.
Hati gue rasanya diremas kuat. Sakitnya jauh lebih parah daripada tulang gue yang patah.
“Mas…” panggil gue lirih, suara gue pecah di ujung tenggorokan.
Mendengar panggilan gue, bahunya menegang. Dia buru-buru mengusap wajahnya dengan kasar, menarik napas panjang untuk menormalkan suaranya, lalu melipat sajadahnya cepat-cepat.
Dia berbalik dan berjalan mendekat ke ranjang. Matanya merah, bengkak, dan basah.
“Kenapa, Gi?” tanyanya lembut, tapi serak. Tangannya bergerak kaku merapikan selimut gue. “Kamu perlu sesuatu? Mau minum? Atau posisinya nggak nyaman?”
Gue menggeleng lemah, air mata gue sudah mengalir deras membasahi bantal. Gue menatap wajahnya yang kacau.
“Ada yang sakit, ya? Sebentar ya Mas panggilin suster dulu, mungkin obat antinyerinya udah abis…”
Gue menahan tangannya yang hendak memencet tombol. Kulitnya terasa dingin.
“Aku nggak sakit, Mas,” isak gue. “Tapi kamu yang sakit. Dan sakitnya karena aku kan?”
Mas Radyta terdiam. Dia menunduk menatap tangan gue yang menggenggam jarinya. Perlahan, dia menggeleng.
“Saya nggak sakit, Gi,” dustanya. “Dan kalaupun saya sakit… pasti itu bukan karena kamu.”
“Bohong,” potong gue cepat. “Kalau nggak sakit, berarti tadi Mas nangis karena apa? Mas abis aduin aku ya sama Allah? Mas minta Allah buat hukum aku karena udah jahat sama Mas?”