Penulis: Miwa

tentang perempuan yang diajari untuk bersinar, tapi lupa bagaimana caranya hidup


Bagian I — Etalase yang Berkilau

Pagi selalu datang ke kamar Lana seperti lampu sorot di panggung teater. Cahaya matahari menembus gorden satin krem dan jatuh tepat di wajahnya, seolah dunia ingin memastikan bahwa ia masih memainkan perannya.

Dadanya terasa berat, seperti seseorang yang tidur dengan rahasia di atas jantungnya. Tidak ada luka yang bisa ia tunjuk. Tidak ada tragedi yang bisa ia ceritakan. Hanya rasa sesak yang selalu ada, bahkan di hari-hari yang seharusnya bahagia.

Ia duduk di depan cermin.

Pantulan itu rapi, cantik, dan tampak utuh. Lana menatapnya lama, seperti sedang melihat orang asing yang kebetulan mengenakan wajahnya.

Makeup baginya bukan alat memperindah, melainkan alat menyunting kenyataan. Ia menghapus kelelahan. Ia menutup jejak malam yang penuh pikiran. Ia memastikan tidak ada yang melihat betapa rapuhnya ia di balik kulit yang halus itu.

Di dapur, keluarganya sudah berkumpul.

“Lana, ini selai stroberi kesukaanmu,” kata ibunya dengan suara penuh cinta.

Kata kesukaanmu terdengar seperti sebuah tuduhan yang lembut.