Content Warning: Kiss

IMG_8561.jpeg

Suasana di laboratorium Kelautan lantai tiga sudah mencapai titik jenuh. Cahaya biru dari monitor besar memantul di wajah Iel yang tampak tegang, sementara dengung pendingin ruangan terasa seperti statis yang menulikan telinga. Iel baru saja menghentikan proses rendering secara kasar, suaranya memecah keheningan dengan nada tajam.

"Gue mau balik sendiri, Vis. Berhenti ngikutin gue sampai ke depan toilet juga!" seru Iel, napasnya memburu.

Marvis yang berdiri di belakangnya mengernyit, tangannya masih memegang botol kopi yang ia belikan untuk Iel. "Gue cuma mastiin lo nggak diganggu si Arlan lagi. Apa salahnya menjaga partner sendiri?”

"Salahnya adalah lo bikin gue ngerasa kayak barang pecah belah!" Iel berbalik, matanya berkilat marah. "Lo dulu ngerundung gue, Vis! Lo bikin hidup gue kayak neraka! Terus sekarang lo tiba-tiba jadi pahlawan posesif? Lo kasihan sama gue? Atau ini cuma cara baru buat ngetawain gue di depan temen-temen lo setelah gue baper nanti?”

"Kasihan?" Marvis melangkah maju, memangkas jarak hingga Iel terdesak ke meja lab. "Lo pikir gue buang-buang bensin, ngerjain log data lo sampe pagi, dan hancurin reputasi gue sendiri cuma buat rasa kasihan?”

"Terus apa?! Lo bilang gue 'partner terpenting', tapi lo perlakuin gue kayak peliharaan!”

Kesabaran Marvis menguap. Ia menarik kerah jaket iel, membawa wajah pemuda itu mendekat dalam satu sentakan. Dalam gerakan impulsif yang didorong rasa frustrasi, Marvis menekan bibirnya di atas bibir Iel—sebuah ciuman yang terasa seperti tabrakan dua arus laut yang berbeda. Dingin dan panas menjadi satu.

Iel membeku. Di ambang pintu lab yang sedikit terbuka, Jason yang niatnya mau mengambil kunci yang tertinggal, langsung mematung. Matanya melotot, tangannya refleks menutup mulut, lalu ia segera berbalik tanpa suara.

Marvis melepaskan ciumannya sebentar, matanya menggelap, menatap bibir Iel yang sedikit terbuka karena syok. "Kita nggak bisa ngomong di sini. Ikut gue.”

Tanpa menunggu persetujuan, Marvis menyambar tas kamera Iel dan menarik pergelangan tangan Iel dengan tenaga yang tak terbantahkan. Ia menarik paksa Iel menuju parkiran, mengabaikan protes Iel yang langkah kakinya terseret-seret mencoba mengimbangi langkah lebar sang Kapten.

Deep Sea Connection —

BMW hitam itu berhenti dengan decitan halus di basement apartemen. Begitu pintu unit apartemen minimalis itu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat kedap dan intens. Marvis melempar tas kamera ke sofa, lalu berbalik menghadap Iel yang masih berdiri di dekat pintu dengan napas pendek-pendek.

"Kenapa lo bawa gue ke sini?!" seru Iel, dadanya naik-turun.

"Biar nggak ada yang ganggu. Biar nggak ada 'noise' dari orang-orang kayak Arlan," Marvis mendekat, suaranya merendah, mengisi setiap sudut ruangan yang sunyi. "El... gue tahu gue bajingan dulu. Gue nggak tahu cara deketin lo tanpa harus jadi kasar karena gue takut... gue takut kalau gue baik, gue bakal kelihatan lemah di depan lo.”