
Akhirnya Isail bersama Yuki tiba di sebuah unit apartemen sewaannya. Lelaki menghela nafas, unit itu masih kosong, dan rapi. Isail membuka pintu, menyalakan lampu, lalu meletakkan carrier di lantai. Perpindahan bagi orang lain mungkin terdengar sederhana seperti menyewa sebuah unit apartemen dan memindahkan barang seperlunya. Akan tetapi bagi Isail, perpindahan ini cukup membuat dirinya merasa berat hati.
Di panti, selama ini, Isail sudah terlalu sering menelan perasaan yang tidak pernah punya tempat untuk keluar. Ia menyukai Yuki sejak lama, bahkan sejak sebelum semua ini berubah menjadi rumit. Namun kenyataan selalu punya cara untuk menertawakan ketulusan, Yuki justru menaruh hati pada orang lain.
Pada Sean. Teman dekatnya sendiri.
Dan puncaknya terjadi kemarin, saat akhirnya Isail dengan gamblang mengungkapkan isi hatinya selama ini.
Kata-kata Yuki tentang keinginannya menghancurkan hubungan Sean dan pacarnya terdengar seperti pukulan paling telak yang bisa diterima Isail. Bukan semata karena rencana itu buruk, tetapi karena Isail terpaksa menyaksikan betapa besar obsesi Yuki pada seseorang yang bukan dirinya.
Isail semakin merasakan sedikitnya kesempatan untuknya. Bahkan ketika dirinya-lah satu-satunya orang yang berada di sisi lelaki itu ketika kutukan menjatuhkannya menjadi seekor kucing.
Isail, dengan segala perasaan cintanya yang begitu besar selalu mengusahakan apapun keinginan Yuki.
Begitulah cara Isail mencintai Yuki.