Local AU, Mature Themes, Aged-up Characters; Nagi is 21 and Rin is 20, Nagi is Half Deutsch Here Because Why Not, Nagi Has A Dog, First Meeting, Eventually Kiss, OC as Cameo.

Pertemuan pertama Rin dan Nagi secara langsung tidak terjadi dirumah Nagi. Tidak. Tentu saja tidak. Mau seingin apapun Rin melakukannya, Itoshi Rin masih punya keinginan kuat untuk mendengarkan suara akal sehat miliknya yang berteriak itu terlalu intim, terlalu personal.

Jadi mereka memutuskan untuk bertemu di vet untuk grooming Max. Karena walaupun ide membantu Nagi memandikan anjingnya yang lebih mirip serigala itu ditolak mentah-mentah—oleh akal sehat Rin—tapi Nagi punya keinginan kuat untuk mempertemukan orang yang dia sukai dengan anjing kesayangannya yang lebih sering dibilang adiknya oleh sang ayah itu.

Rin menolak dijemput walaupun Nagi sempat membujuknya lagi dengan permen—serius, permen chupa chups—dan bersikeras dia akan menemui Nagi di vet setelah pulang dari rumah temannya. Bohong. Hiori bahkan tidak mau ditemui dan bilang dia dan Karasu sedang melakukan sesuatu yang tidak senonoh—dasar pasangan saru. Jadi, dalam perjalanan menuju vet yang Nagi sebutkan, Rin punya waktu sebentar untuk memikirkan ulang keputusan hidupnya selama beberapa minggu terakhir sejak Nagi mulai merangsek masuk ke dalam kepalanya.

Mulai dari Rin yang seharusnya memblokir akun Nagi karena sudah masuk daftar orang menyebalkan yang mengganggu—malah lebih buruk karena Nagi berani menambahkan Rin ke dalam grup tidak jelas dengan Reo di dalamnya, combo maut untuk perbuatan tidak menyenangkan dalam kamus Itoshi Rin. Sialan. Jika dipikir ulang, itu aneh sekali. Lalu keputusannya hari ini untuk tidak membawa mobil dan memilih naik taksi online juga patut dipertanyakan. Hanya karena Nagi bilang akan merepotkan jika Rin membawa kendaraan dengan alasan Nagi ingin mengajak Rin ke suatu tempat seharusnya tidak serta merta membuat Rin menurutinya begitu saja. Karena, hei, sejak kapan Itoshi Rin mau diperintah?

Rin menghela nafas, matanya kembali memindai penampilanya sendiri yang hari ini mengenakan hoodie hitam oversize dan celana jogger abu-abu. Sangat santai. Tidak proper. Dan yang paling penting, terlalu nyaman untuk pertemuan pertama dengan orang asing—walaupun Rin tahu cukup banyak tentang Nagi, cowok itu masih termasuk orang asing, titik. Sekali lagi, kenapa Rin mendengarkan Nagi yang bilang untuk tidak overdressed? Itoshi Rin tidak overdressed, hanya terbiasa berpenampilan rapi dan bersih. Sambil menahan diri agar tidak mengerang dan minta putar balik, Rin kembali merutuki dirinya sendiri dalam hati. Sialan Nagi dan wajah bodohnya yang tampan itu.

Vet yang dipilih Nagi—Grumpy Vet Clinic? Rin menatap papan nama itu dengan sangsi—adalah klinik hewan yang dari luar saja terlihat mahal. Dilihat dari bangunan luas yang modern dan area parkir yang penuh mobil sport dan SUV mewah, Rin tahu Nagi benar-benar tidak main-main soal perawatan adik kesayangannya itu.

Saat masuk ke area lobi, di situlah Rin menemukan Nagi.

Seorang cowok jangkung dengan warna rambut yang terlalu menarik perhatian tengah duduk di salah satu deretan kursi tunggu, menunduk pada seekor anjing siberian husky besar dengan bulu hitam dan putih yang duduk dengan patuh di depannya. Rin berhenti sebentar. Bukan karena anjing itu, Max tampak seperti gumpalan bulu yang terlalu besar tapi karena sial, Rin tahu Nagi tampan dari foto profil di akun Twitternya, tapi melihatnya secara langsung adalah hal lain. Cowok itu mengenakan kaos navy oversize polos dan celana cargo pendek berwarna olive, tampilan effortless dan sangat santai yang malah membuatnya tambah lebih menarik. Dan jika boleh jujur, dari samping, wajah Nagi terlihat seperti karya seni yang dibuat ketika penciptanya sedang dalam suasana hati yang baik—dan sedikit malas, mungkin.

Rin menghembuskan nafasnya, berkata pada dirinya sendiri bahwa ini bukan apa-apa dan dia bisa memblokir Nagi setelah ini jika cowok itu benar-benar sebodoh kelihatannya.

“Nagi.” Rin memanggil pelan. Suaranya tidak ragu dan dibuat sedatar mungkin.

Cowok dengan rambut putih itu mendongak, tidak dengan gestur terkejut atau terganggu, hanya pelan dan tampak sangat malas seolah fakta bahwa seseorang mencoba berbicara kepadanya adalah hal terakhir yang dia inginkan. Namun ketika mata abu-abunya menangkap sosok Rin, sesuatu berubah di wajahnya. Tidak ada yang signifikan, hanya reaksi mikro yang lebih mirip pengenalan alih-alih keterkejutan ketika pertama kali melihat Rin—yang katanya orang yang tengah Nagi sukai saat ini. Rin semakin curiga itu hanya omong kosong yang muncul karena Nagi bosan mengurus anjingnya sendirian.

“Rin?” Tanyanya kemudian. Suara Nagi agak serak, datar dan ada nada malas yang samar. Seperti orang yang baru bangun tidur atau jarang berbicara. Yang mungkin saja keduanya benar.

Rin mengangguk singkat. “Hai.” balasnya dengan datar sebelum kemudian melirik pada makhluk lucu dan berbulu yang disebutkan Reo. “Boleh duduk?” Tanyanya, menunjuk pada bangku sebelah Nagi dengan dagunya.

Nagi melirik pada Max yang sudah bangun dari posisi duduknya, menatap Rin waspada dengan mata biru esnya. “Kenalan dulu.” Katanya, merujuk pada Max dan bukan mereka berdua—dua manusia yang juga belum benar-benar berkenalan secara langsung. “Dia nggak galak kok, cuma dramatis dan agak bloon.” Gumam Nagi.

Rin melirik Nagi. “Kayak pemiliknya?” Candanya kering dengan alis terangkat.

“Gue nggak dramatis,” Nagi mengoreksi tanpa menatap Rin. “Max, sit.” Perintahnya kemudian, beralih pada anjingnya. Max menurut walau matanya masih menatap Rin, jelas waspada—atau penasaran—pada manusia baru yang mendekati tuannya. “Biarin dia ngendus tangan lo dulu, jangan sentuh dia duluan.” Nagi memberi instruksi, kali ini kembali menatap Rin. Ada peringatan samar di matanya yang mengartikan dia serius.

Rin menurut, mengulurkan tangan kanannya ke dekat hidung Max dengan hati-hati. Dia menahan nafas melihat moncong Max yang besar dan basah mendekat untuk mengendus punggung tangan Rin. Jantungnya berdetak lebih cepat, diam-diam takut anjing itu bereaksi buruk. Siapa yang tahu jika Max tidak menyukai bau deterjen yang menempel pada pakaian Rin? Atau bahkan aroma sepatu Rin yang masih baru?

Tapi Max malah menjulurkan lidahnya yang panjang, menjilat jari-jari Rin hingga ia agak tersentak merasakan tekstur kasar dan basah dari jilatan anjing itu.