Bel sekolah sebenarnya udah lama berhenti, tapi suara di koridor masih berisik. Anak-anak keluar kelas bergerombol, ketawa lepas, ada yang saling lempar tas, ada yang ribut soal nongkrong nanti sore. Buat kebanyakan orang, ini jam paling ringan seharian. Tapi buat Ameline, enggak.
Dia jalan agak cepat, langkahnya pendek-pendek, seolah pengen segera keluar dari area sekolah. Tasnya diselempang asal, bahunya agak naik—posisi tubuh orang yang lagi siap defensif tanpa sadar. Tangannya genggam HP kuat-kuat, sampai layar dingin itu nekan ke telapak. Dia baru ngerasa agak lega begitu gerbang sekolah kelihatan di depan.
“El.” Langkahnya langsung melambat. Dia kenal suara itu. Terlalu kenal. Ameline pura-pura nggak dengar dan terus jalan. Tapi belum sampai tiga langkah, pergelangan tangannya ketarik dari samping. Nggak kasar, tapi cukup bikin kaget. “Don’t you dare to touch me,” katanya refleks, suaranya turun tapi tegas.
Geraldy berdiri di depannya. Seragamnya rapi, ekspresinya datar—terlalu datar untuk orang yang jelas lagi marah. Tubuhnya nutup jalan, bikin Ameline kepepet ke pagar pembatas parkiran. “Why did you block me?” tanyanya, nada santai tapi dingin. “Seriously, El?”
Ameline narik tangannya keras sampai akhirnya bebas. Dia langsung mundur satu langkah, jaga jarak. Gerakan itu spontan, kayak tubuhnya udah tau apa yang harus dilakuin sebelum otaknya mikir. “Iya,” jawabnya cepat. “Sekarang minggir.” Gerald menghela napas pendek, sudut bibirnya ketarik tipis. “You replied. You went off on me. Terus tiba-tiba I’m blocked?”
“Kita udah putus,” potong Ameline. “Aku gak perlu bales chat kamu.” Gerald ketawa kecil. Pendek. Nggak ada lucunya. “You keep saying that like it’s real.” Ameline muter badan. Niatnya satu: pergi sekarang juga. Tapi baru satu langkah, HP-nya langsung direbut. Gerakannya cepat, yakin—gerakan orang yang udah terlalu sering ngambil sesuatu tanpa izin.
“Gerald—balikin!”
Beberapa murid lewat, tapi nggak ada yang benar-benar berhenti. Dari luar, ini kelihatan kayak ribut kecil anak SMA. Nggak ada yang tau apa yang lagi kejadian sebenarnya. Gerald ngangkat HP itu setinggi dada. “In the car. Just talk”, “Aku nggak mau masuk mobil kamu.”
“You want this back or not?” Nada suaranya datar. Rahang Ameline mengeras. Dadanya naik turun cepat. Dia tau dia gak punya pilihan. Akhirnya dia jalan ngikutin Gerald ke parkiran. Jarak mereka dijaga satu langkah. Ameline nggak mau terlalu dekat.
Begitu pintu mobil nutup, suara dunia luar langsung hilang. Sunyi mendadak terasa berat. Udara di dalam mobil pengap. AC mati. Mesin belum dinyalain. Gerald duduk di kursi pengemudi. Santai. Terlalu santai. Dia muter HP Ameline di jarinya, layar sesekali nyala. “So,” katanya, “why’d you block me?”