<aside> 🧗‍♂️ Saat masih kanak-kanak, saya berlari-lari mengejar harta dan karir yang cemerlang. Menginjak remaja, saya mulai bergulat mencari tujuan hidup dan mewujudkan cita-cita. Tiba di usia dewasa… saya harus berjalan di dasar ngarai yang sepi demi membuktikan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

</aside>

Hidup itu… nikmat. Iya, kan?

Hidup itu… nikmat. Iya, kan?

Apa hal terpenting dalam hidupmu?

Kalau saya, dahulu saya bakal menjawab pertanyaan tersebut dengan: materi. Atau, hal terpenting dalam hidup saya adalah uang. Karena dengan uang, hampir semuanya bisa saya dapatkan.

Bahkan rasa bangga dari keluarga.


Hai, nama saya Rama. 👋🏻

Di bagian ini saya ingin menceritakan perjalanan saya dalam membuktikan keberadaan Tuhan.

Saya lahir dan besar di Jakarta.

Di keluarga Muslim, hidup dalam situasi nyaman dan didampingi oleh kedua orang tua yang sukses memenuhi semua kebutuhan materi anak-anaknya.

Bicara tentang agama, sejak kecil saya telah dilabel sebagai seorang Muslim. Sekali pun saya nggak tahu apa-apa tentang Allah. Saya pun beribadah layaknya seorang Muslim. Padahal, saya belum pernah melihat Allah atau ngobrol dengan-Nya.

Sedikit membahas terkait pola asuh kedua orang tua.

Sejak kecil, secara tidak disadari, saya telah dididik dan dibesarkan untuk mencari nafkah. Bahwa salah satu hal terpenting dalam hidup adalah materi. Pencapaian karir atau pun kepemilikan harta benda (rumah, mobil, gadget terbaru, pekerjaan kantoran yang sudah pasti, dan kebendaan lainnya).

Tentu saja, saya tidak menyalahkan kedua orang tua terkait keadaan saya. Justru mereka sudah berusaha sangat baik dalam membesarkan saya dan adik-adik.

Lagi pula, mau diakui atau tidak, pada dasarnya kita semua adalah produk dari para leluhur. Leluhur kita berkreasi menanamkan mental model, belief system, dan value system ke dalam pikiran alam bawah sadar kita. Entah itu baik atau buruk. Lalu ketika dewasa, sistem* itu sudah menancap ke dalam diri kita. Sistem itulah yang membantu kita memberikan penilaian terhadap kondisi diri dan sandiwara dunia yang kita saksikan.

Begitu pula halnya dengan kedua orang tua saya.

Andaikan kedua orang tua saya saat kecilnya diprogram dengan kata kunci “materi adalah tanda kesuksesan.” Maka, besar kemungkinan mereka akan menganut kepercayaan tersebut sampai lansia. Mereka akan memandang kalau belum punya mobil dan rumah, ya belum sukses.

Begitu pula dengan saya, dengan kita semua yang termasuk dalam kategori Manusia.

Contoh lain: Ketika sejak kecil kita, sebagai Muslim, sudah diprogram dengan kata kunci “cukup salat aja, kita semua sudah dijamin masuk Surga.” Maka sampai tua (andai nggak mau mempelajari Al-Qur’an), kita bakal meyakini konsep tersebut. Kita nggak bakal mau peduli sama yang lain lagi. Mau itu benar atau salah, ucapan itulah yang kita yakini benar. Buat apa repot-repot membaca, kalau cukup salat aja sudah dijamin masuk Surga?

*Kamu bisa mengerti lebih banyak kalau mau belajar psikologi & neurosains.

Tidak mudah untuk mengubah mental model, belief system, dan value system yang sudah tertanam di dalam diri kita. Terkadang, ketika kita berusaha ingin mengubahnya, rasanya seperti kepala menempel ke tanah lalu diinjak dengan sepatu bot. 🦶🏻

Saya pribadi telah diprogram selama bertahun-tahun untuk selalu menjaga diri tetap hidup di dalam zona nyaman, menganut tradisi yang telah ada di masyarakat. Kuasa tidak kuasa, saya terseret arus, mengikuti tradisi tersebut. Nggak peduli tuh, tradisi tersebut benar atau bengkok aka salah.

Hingga di usia 25 tahun… saya merasa telah memiliki semuanya.

Gaji bagus, gadget terbaru, fisik yang prima, makan enak setiap hari, pekerjaan yang menjamin, perempuan yang cantik, kesehatan yang baik…

Apa yang selanjutnya ingin kamu cari setelah memiliki semuanya?


Tulisan-tulisan di bawah ini adalah jurnal saya dalam mencari tahu:*