Pada awalnya, dia bukan siapa-siapa dalam hidupku. Hanya satu wajah di antara banyak wajah lain di Fakultas Hukum—datang, duduk, mencatat, lalu pulang. Kami berada dalam angkatan yang sama, menapaki lorong yang sama, menghirup udara ruang kelas yang sama, tapi tidak pernah benar-benar saling mengenal. Bahkan mungkin, andai suatu hari dia menghilang dari bangku itu, aku tidak akan menyadarinya.
Kami hanyalah dua orang yang hidup berdampingan tanpa irisan.
Segalanya berubah ketika dia bergabung dengan UKM yang sama denganku. Ruang itu menjadi titik temu yang tak pernah kurencanakan. Awalnya tetap biasa saja—sapaan formal, senyum singkat, percakapan seperlunya. Tapi waktu, dengan kesabarannya yang aneh, mulai membuka celah di antara kami. Dari obrolan ringan, kami masuk ke diskusi yang lebih dalam. Dari candaan, kami sampai pada perdebatan.
Kami sering duduk berhadapan, membicarakan isu-isu yang sedang ramai. Tentang hukum yang seharusnya melindungi, tapi sering melukai. Tentang keadilan yang katanya netral, tapi terasa berat sebelah. Tentang negara, tentang rakyat, tentang kemanusiaan. Kami tidak selalu sepakat. Tapi justru di sanalah aku merasa hidup—ketika pikiranku dipaksa bekerja, ketika keyakinanku digugat, ketika diam bukan lagi pilihan.
Dia berbeda. Cara bicaranya tenang, tapi pikirannya tajam. Ia tidak memaksakan pendapat, hanya menyodorkannya, lalu membiarkanku mencerna sendiri. Aku tidak sadar, tapi pelan-pelan aku mulai menunggu diskusi dengannya. Menunggu percakapan yang tidak dangkal, yang tidak berhenti di permukaan.
Hingga suatu hari, di sela kesibukan yang melelahkan, dia melakukan hal sederhana yang tak pernah kuduga akan berdampak sejauh itu.
Dia menyodorkan sebuah buku.
Tangannya biasa saja. Nada suaranya pun tidak istimewa. “Gue rasa, lo harus baca ini.”
Judulnya berat. Namanya besar. Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa.
Aku nyaris tertawa kecil. Buku? Bukan duniamu, kataku pada diri sendiri.
Sejujurnya, aku bukan orang yang bersahabat dengan buku. Membaca bagiku adalah kegiatan yang melelahkan. Aku selalu merasa belajar bisa dilakukan dengan cara lain—dari pengalaman, dari diskusi, dari hidup itu sendiri. Buku terasa terlalu lambat di dunia yang menuntut segalanya serba cepat.
Tapi aku menerima buku itu. Bukan karena tertarik, melainkan karena tidak enak menolak.