By: M Irsyad

Malam itu, langit Teyvat terbentang tenang setelah semua perjalanan panjang—Mondstadt, Liyue, Inazuma, Sumeru, Fontaine, Natlan, hingga Snezhnaya.m

Traveler duduk di tepi perkemahan kecil, api unggun berderak pelan. Di sebelahnya, Paimon asyik memakan buah kering sambil mengeluh.

Paimon: “Haaa… jadi begini, ya? Setelah semua Archon ditemui, semua masalah selesai, tapi kita masih belum menemukan jejak saudaramu….”

Traveler: (menatap langit) “Ya. Semua jalan berujung di kabut. Rasanya seperti ada dinding yang memisahkan Teyvat dengan… sesuatu di luar sana.”

Paimon: (berpaling) “Tapi masa iya… dunia ini masih punya ‘luar’? Teyvat saja sudah gila-gilaan, apalagi kalau ternyata ada kerajaan lain?”

Saat itu, api unggun mendesis. Seekor kupu kupu ungu, membawa selembar kertas tipis

Paimon: “Waaah! Surat terbang?! Jangan-jangan ini ulah Fatui lagi?!”

Traveler membuka gulungan itu perlahan. Tulisan tangan elegan namun licik terbaca jelas.

“Untuk sang Pengembara dan bintang mungil yang selalu mendampinginya.

Jika kau mencari jawaban tentang keluargamu, maka datanglah ke barat, menyeberangi laut kabut.

Di sanalah berdiri sebuah kerajaan yang tak tersentuh Teyvat, tempat cahaya abadi bersinar—Camelot.

Aku, seorang teman lama, akan menunggumu di sana. —Oberon.”

Paimon menelan ludah, wajahnya tegang.

Paimon: “O-Oberon? Siapa itu? Sejak kapan kamu punya teman bernama begitu?!”

Traveler hanya diam, jemarinya mengepal. Nama itu samar-samar memunculkan rasa familiar, seolah pernah didengar dalam mimpi.

Traveler: “…Entah kenapa, aku merasa memang sudah seharusnya kita bertemu dia.”

Paimon: (menggertakkan gigi) “Tapi ‘cahaya abadi’? ‘Kerajaan tak tersentuh’? Itu kedengarannya… mencurigakan! Paimon nggak suka!”

Traveler: (tersenyum tipis) “Kita tidak akan tahu kebenarannya kalau tetap di sini. Lagipula, mungkin… ini jejak yang kita cari selama ini.”