Suara decitan yang terjadi antara gesekan dari sutil dengan wajan itu menggema penuhi seluruh ruangan. Aroma lezat menyeruak di udara, dibantu dengan angin tipis-tipis hingga bawa aroma lezat itu berkelana ke seluruh isi rumah. Wangi dari bawang, cabai, dan telur yang sudah larut menjadi satu ditambah dengan beberapa tuang kecap dengan segelintir bumbu pada nasi goreng yang sedang dibuat oleh Sadewa itu mengundang rasa lapar bagi siapapun yang menciumnya.
Pun dengan Nakula yang dapat mencium aroma lezat itu dan segera menghampiri dari mana arah aroma itu tercium. Begitu ia mengintip siapa yang ada di dapur, ia bisa melihat si surai keemasan sedang fokus berkutat dengan urusan memasaknya. Tanpa membuat suara apapun, Nakula bawa langkahnya untuk duduk di bangku meja makan. Menunggu Sadewa yang masih sibuk dengan urusannya. Tak berselang lama, datang Arjuna dengan kacamatanya yang entah sudah kemana. Wajahnya kucel khas orang bangun tidur, rambutnya berantakan, dan sesekali ia menguap ngantuk. Arjuna datang tanpa mengatakan apapun langsung duduk di bangku yang bersebrangan dengan Nakula.
Nakula bisa melihat bagaimana Arjuna masih setengah sadar dan berusaha untuk mengumpulkan seluruh nyawanya—sementara Sadewa masih sibuk dengan menyajikan nasi goreng buatannya untuk di taruh di atas piring. Bergeser ke detik berikutnya, kini Nakula bisa melihat dua presensi lainnya yang ikut hadir meramaikan ruang makan. Ah! Itu Yudistira dan Bima, mereka sama-sama dengan muka bantalnya tanpa mengucapkan apapun langsung duduk di bangku masing-masing. Begitu pas dengan Sadewa yang sudah selesai dengan urusan memasaknya, kini si surai keemasan itu bergegas untuk membagi rata masakan buatannya ke lima piring yang ada di meja makan.
“Selamat makan, semua.”
Itu adalah Arjuna, memang ketika mereka akan melakukan makan bersama Arjuna selalu menjadi orang yang mengucapkan kalimat tersebut—yah, seperti sebuah tradisi, dan semuanya hanya mengangguk serentak dan mulai memakan makanannya perlahan. Pun dengan Nakula, yang turut mengikuti kegiatannya. Mereka makan dengan khidmat hingga di tengah sarapan pagi itu Bima berceletuk, “Mas, hari ini, ya?”
Dalam kegiatannya, Nakula memperhatikan bagaimana baik Arjuna, Yudistira, sampai Sadewa diam mematung untuk beberapa saat. Nakula yang bingung hanya melanjutkan kegiatannya tanpa memperdulikan maksud dari ucapan Bima, ia kepalang lapar dan ingin segera menghabiskan makanannya dengan khidmat. Sudah lama sekali ia tidak merasakan masakan Sadewa.
Dalam keheningan yang sempat terjadi beberapa detik itu, Sadewa akhirnya berdeham kecil untuk menetralkan tenggorokannya. Ketika dirasa sudah aman, Sadewa mulai menjawab, “ya, nanti kita ke sana. Setelah sarapan.”
Kali ini Nakula justru melihat Yudistira yang menunduk cukup dalam disela makannya. Ada apa sih? Padahal itu hanya sebuah kalimat sederhana tanpa makna apa-apa, tapi kenapa atmosfer yang terasa begitu sepi? Pikir Nakula saat itu juga. Yah, sayangnya Nakula bukan seorang cenayang yang bisa menerawang isi pikiran mereka—jadi Nakula tidak ambil pusing dan lebih memilih untuk mengisi perut kosongnya dengan suapan dari nasi goreng milik Sadewa.
Masakan Sadewa adalah yang terbaik menurutnya, sudah sedari kecil ketika mereka hanya hidup berdua Sadewa selalu berusaha keras untuk memasakinya. Dan, Nakula tidak pernah mengeluh dengan segala hasil masakan milik Sadewa—bahkan, menurutnya masakan Sadewa jauh lebih lezat dibandingkan dengan masakan restoran yang sudah bersertifikat five Michellin. Ah, nostalgia sekali rasanya.. Nakula sangat rindu dengan rasa masakan milik Sadewa.
“Yaudah, kalian jangan lama-lama siap-siapnya. Takut hujan. Habis ini langsung siap-siap.”