Belum lama berpisah, kini keduanya kembali bertemu. Jika dipikir pikir selama hampir tiga bulan ini mereka selalu tinggal bersama, hidup berdampingan seakan itu hal yang wajar. Jadi tolong dimaklumi jika kaisa merasa sedih, dia baru saja merasa bebas setelah melepaskan pekerjaannya, dan mulai terbiasa mengandalkan milan dihidupnya.
Setelah menerima pesan dari milan, kaisa berlari menghampiri prianya dengan gembira “Tadi ga pulang? kenapa ga naik aja? dari tadi kamu nunggu disini? udah lama banget?”
Mendengar pertanyaan beruntun membuat milan tersenyum, kaisa menanyakan banyak hal sambil mengatur nafasnya, bagi milan itu manis “Aku beli corndog” dia **membuka bungkus dan memberikannya untuk kaisa, satu tangannya bergerak menggenggam tangan ramping itu.
Kaisa fokus pada makanannya, sesekali bercerita tentang tante ami yang sangat mempedulikan dan mengkhawatirkannya “Berat badanku kayanya nambah banyak, kata tami pipiku gembul banget” katanya sedih
Milan mengecup singkat pipi gembul kaisa, lalu bersikap seolah tak terjadi apa apa “Tambah cantik tapi”
Kaisa yang salah tingkah, hanya berharap pipinya tak berubah merah “Ini enak, masih anget, kamu mau?”
“Aku ga makan”
Kaisa tahu itu, dia hanya mengatakan apapun yang ada dipikirannya saat itu. “Pura puranya sih” katanya dengan sedikit cemberut.
“Udah, aku pulang ya” Milan melepas genggaman mereka, tangan kaisa menolak dan menarik kembali tangan milan. “Ah cepet banget, kita sampe kapan gini terus” yap, memang agak berlebihan, soalnya belum ada satu hari tapi kaisa udah ga tahan jauh jauhan sama milan.
“Kamu aku ajak nikah ga mau, ya mau gimana”