Green and Orange Playful Portfolio Presentation.jpeg

Shava telah sepenuhnya bersiap untuk kembali menembus malam dengan tumpukan perlengkapan koordinasi yang tampak berat dalam dekapannya. Penampilannya masih serupa dengan sebelumnya—mengenakan kaus putih yang kini sedikit kehilangan bentuk aslinya dan dipadukan dengan selvedge denim hitam dari Iron Heart yang membungkus kakinya dengan kaku. Topi yang ia kenakan sejak tadi masih bertengger di kepala, sementara jaket departemennya hanya tersampir asal pada bahu kiri untuk menutupi sebagian kerutan pada kaus putih yang telah kusut akibat sisa-sisa letih yang panjang.

Shava kini tertahan—mondar-mandir dengan langkah gelisah tepat di depan pintu kamar 103. Ada rasa jengah yang luar biasa karena ia terjebak dalam situasi yang sama persis untuk kedua kalinya dalam satu hari—sebuah kebetulan yang membuatnya merasa benar-benar konyol.

Meskipun rasanya ingin menghilang saja, Shava tetap memaksakan diri untuk menuntaskan kewajibannya. Ia tidak mau dicap sebagai orang yang tidak punya tata krama hanya karena gagal menerapkan three magic words atas apa yang telah ia lakukan. Meskipun ada sedikit ragu, ia akhirnya mengetuk pintu kayu itu perlahan—mengingat sisa waktu yang dimilikinya tak lagi banyak.

Tidak perlu waktu lama bagi Nadhira untuk menyambut ketukan tersebut. Begitu pintu terbuka, Nadhira hanya bisa melihat dengan raut bingung yang kentara. Matanya bergerak menyapu penampilan Shava yang tampak sangat sibuk dengan berbagai tentengan di tangannya—jauh berbeda dengan dirinya yang sudah mengenakan piyama lengkap dan wajah bare face yang segar sehabis cuci muka. Shava terlihat seperti orang yang baru mau memulai hari, sementara Nadhira sudah benar-benar siap untuk menarik selimut dan pergi tidur.

“Ada yang titip barang buat lo. Tadi kurirnya manggil-manggil tapi lo nggak nyaut, jadi gue yang terima.”

“Thank you, Shav,”

jawab Nadhira singkat.

Nadhira mengulurkan tangan untuk mengambil paket tersebut.

As she took it, her fingers accidentally brushed against Shava’s hand, and she couldn't help but notice how freezing her skin felt.

Setelah barang itu berpindah tangan, tidak ada lagi kata yang terucap. Namun, Nadhira tidak lantas menutup pintu kamarnya. Ia tertahan di ambang pintu karena Shava pun masih tetap bergeming di posisinya. Hal itu membuat Nadhira semakin dilingkupi rasa bingung—ia tidak mengerti mengapa rekan sekosannya tersebut masih saja mematung di sana.