Malam itu, entah kenapa rasanya dingin. Agak asam, namun memabukkan.
Pandangan Yuu teralih ke bawah, dari situ, terlihat jelas adanya jejak-jejak merah akibat kelakuan ganasnya pada pria bersurai pirang yang sedang meregulasi napas di bawahnya. Kekasih? Bukan. Teman? Rasanya tidak benar.
Eichi adalah Eichi.
Semua pertanyaan ini membuatnya kembali berpikir, kenapa ia bisa ada di situasi seperti ini?
Kepalanya ditarik kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat mereka akan wisuda dari Akademi Yumenosaki.
Hari itu, suasananya terang, menandakan kehadiran musim semi sebentar lagi. Ruang OSIS sedang sunyi, terdapat bunyi ‘tik-tok’ pelan dari jam dinding yang mendominasi ruangan. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Eichi dengan urusan DREAMFEST yang tak kunjung rampung, sementara Yuu, ya, melakukan hal yang dia lakukan, seperti menumpang tidur di ruangan dengan penghangat super.
Keheningan itu berlangsung lama, sampai akhirnya, Yuu meledakkannya dengan bom atom.
“Aku, akan pergi kuliah.”
Ketikan di komputer jinjing itu terhenti, sang empunya menatap gadis di seberang mejanya dengan terbelalak.
“Maksudmu?”
Yuu tidak membuka matanya, kakinya masih berselonjor bebas di atas sofa.
“Seperti yang kubilang.”
“Kumohon, jangan bercanda.”
“Untuk apa aku bercanda?” nadanya terdengar menusuk. Matanya merahnya mulai terbuka, memicing tajam, seolah mengingatkannya tentang percakapan mereka belum lama ini.
Si pirang menelan ludahnya perlahan, tangannya mencengkram lututnya tanpa ia sadari.
“Aku mengerti, Yuu, tetapi-”
“Tapi apa? Kamu mau ikut campur lagi?”
Lagi-lagi, Eichi dibuat terdiam. Terdengar suara hembusan napas dari perempuan itu.
“Kita sudah bahas ini kemarin, jika kamu tidak bisa menepatinya, lebih baik aku pergi selamanya sekalian.”
Napas lelaki itu tercekat, tidak, tidak boleh.