https://open.spotify.com/track/1tqPw8Hf88h24Bpt2SzuYE?si=a5abeab0a0444589

Berbagai kisah cinta dalam kehidupan layaknya lembaran-lembaran yang jika disatukan akan menjadi sebuah karya yang tidak akan terlupakan.

Satu, tak sempat memulai.

Dua, gagal.

Tiga, untuk selamanya.

Butuh sampai hitungan ketiga untuk tahu apa itu selamanya yang sesungguhnya, untuk tahu apa arti dari bertahan dan dipertahankan, untuk tahu bahwa cinta tak seharusnya terasa berat.

Karena pada akhirnya, semua yang berhubungan tentang cinta akan terasa mudah ketika bersama orang yang seharusnya.


“Wah, what a great story,” gadis dengan rambut panjang itu fokus pada buku bersampul nuansa merah yang ada di tangannya, tanpa peduli orang-orang di sekitarnya yang kini sedang menyantap makanan sambil berbincang ria.

“Terus sekarang bisnis lo gimana, Jat? Lo beneran nggak nyesel lepasin hotel gitu aja?” tanya Gentala yang sambil mengunyah lasagna buatan Rosiana di mulutnya.

“Nggak, dari awal juga itu bukan punya gue. It supposed to be my Dad’s.

“Yaiyalah santai aje nggak sih? Bisnis properti Jati yang atas nama dia sendiri kan juga diem-diem bejibun,” kali ini Gama ikut menambahkan membuat semua yang ada di meja makan tertawa.

Hari ini semua anak babeh juga Dara, Nares, dan Reno memutuskan untuk berkumpul bersama di kediaman baru Tyaga. Sekaligus melakukan agenda life update setelah diterpa kehidupan yang sedikit kurang ajar pada mereka.

“Non, makan nya santai aja, nggak ada yang ninggalin juga,” tegur Jati melirik istrinya yang terlihat buru-buru menghabiskan makanannya.

“Ih, bukan gitu! Ini kwetiau bikinan Mama Nares enak banget!” jawab Rosiana dengan semangat membuat Jati tersenyum dan mengecup singkat pipi istrinya.

“Enak ya liat lu berdua, setelah diterpa badai yang bener-bener kayak anjing masih bisa mesra sampe sekarang. Kayak semuanya kerasa gampang gitu,” ujar Tyaga dengan segelas bir di tangannya.

“Iya, kan? Gua hampir trust issue tau nggak, hampir aja gua percaya kalo nih dua nikah cuma buat gimmick. Padahal mah rumah tangganya adem-adem aja kan.” Gama menambahkan membuat Rosiana dan Jati menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti sambil tersenyum.

“Siapa bilang adem-adem aja.”

Semua yang ada di sana diam begitu mendengar gumaman gadis yang masih setia memegang buku dan duduk seorang diri di bean bag depan ruang TV.