Savio merasa gerah setengah mati setelah pulang kuliah. Tadi dia naik grab motor, tapi malah mogok di tengah jalan. Mau tidak mau dia melanjutkan separuh perjalanan dengan berjalan kaki di bawah panas sore yang membuat kepala pening.

Karena sudah tidak tahan, dia mampir membeli es teh di pinggir jalan.

“mba, sekalian beli es batunya lima ribu deh, bisa gak?”

“Oh boleh dek. Panas ya?”

Savio cuma tertawa kecil sambil mengusap lehernya yang lengket oleh keringat.

Setelah menerima plastik es batu dan es tehnya, dia lanjut berjalan menuju kosan.

Begitu pintu kamar dibuka, aroma lilin terapi bekas semalam masih samar tercium. Wanginya manis dan menenangkan, kontras sekali dengan tubuh Savio yang terasa panas dan lengket.

Tanpa banyak gerakan, Savio langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Sepatu dan kaos kaki dicopot asal sebelum tangannya merogoh ponsel dari kantong celana.

Iseng membuka akun X, malah muncul notifikasi grup teman SMA-nya. Ada link biru dengan thumbnail tersensor bertuliskan sensitive content.

Savio sebenarnya sudah bisa menebak isi videonya. Tapi rasa penasaran itu semakin menang.

Dia membukanya.

Layar langsung menampilkan dua lelaki yang saling duduk di pangkuan, berciuman rakus sambil membelit lidah satu sama lain. Suara kecupan basah memenuhi kamar yang sepi.

Deg.

Savio menelan ludah pelan. Tubuhnya yang sudah kepanasan malah makin terasa membakar. Napasnya berubah berat ketika bagian bawahnya mulai bereaksi.

“Anjing…. gua sange.” Dia mengumpat lirih sambil merapatkan paha.

Refleks Savio menarik guling ke tengah kedua kakinya. Dipeluknya erat, lalu ditekan menggunakan paha yang menyilang, mencari gesekan kecil yang langsung membuat tubuhnya merinding.

Tangannya masih menggenggam ponsel. Video itu terus berjalan. Suara desahan samar bercampur bunyi kecupan membuat kepala Savio makin kosong.

Dia memejamkan mata ketika merasakan di bawah sana semakin berkedut.

Savio juga mau...

Pikirannya langsung dipenuhi bayangan Lino.