Dare ga Yuusha wo Koroshita ka? © Daken
.
Semestinya, itu satu dari hari-hari lain yang biasa.
Aku mengucap pamit dengan pelanggan terakhir di toko menjelang penghujung sore hari. Silakan, semoga dapat menikmati—rapal itu berulang kali jadikan seperti mantra. Maka, begitu pintu toko tertutup oleh pelanggan, turut disusul pula papan tutup oleh tanganku yang menggantungkan keterangan di pintu. Dengan begitu, baiklah, toko di hari ini telah selesai.
Lantas, sisa hari akan kugunakan untuk agenda bersih-bersih sebelum waktu makan malam tiba—atau, itulah rutinitas pekerjaan di hari-hariku yang biasa. Hanya saja, sesaat aku memilah-milah produk toko yang tersisa, Ayah memanggilku begitu saja dan menutur permintaan, “Boleh minta tolong untuk membeli beberapa bahan persediaan di daftar ini?”
Ah, sebentar. Mungkin bagian itu masih berupa seling kegiatan lumrah. Maka, aku menurut saja, dan kini mengunjungi toko bahan baku langganan Ayah, sedikitnya menyapa dan basa-basi kepada pedagang yang turut ingin menutup toko selagi aku berpikir, ah, kalau begitu, aku pelanggan terakhir di sini, ya? Bukan apa-apa, hanya terkesan lucu untuk dipikirkan.
Jadilah bagian tidak biasanya di sini.
“Ah.”
“... ah.”
Adalah peringatan pertama di kepala; mungkin, aku sebaiknya pura-pura tidak melihat tadi dan segera kabur! Jalan pulangku sudah dekat! Namun, dia memergokiku lebih cepat sebelum aku melaksanakan seruan benak, jadi berakhirlah aku di sini yang gelagapan seperti orang bodoh.
Dia yang berdeham pertama kali. “Oh …. Tidak biasanya, kulihat kau di sini.”
“Oh, selamat sore, Tuan Penyihir.”
Kenapa aku bertemu dengan orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini?
Ganti ke default, ganti ke default. Setidaknya, singkirkan masalah personal dan jangan sampai jerih payah nama keluarga ini tercoreng. Kukatakan kepada batin selagi berusaha untuk tidak memelototi dan kembali ke mode pekerjaan; sebuah senyum ramah menyapa pelanggan. Tuan Penyihir masih sama dengan jubah lebar dan rambut kelabu berantakan, pula wajah kaku yang sama sekali tidak ramah. Lantas, spontan saja kami dilanda dalam serbuan mode hening—bila mengabaikan tapak orang-orang yang berlalu lalang, tentu saja.
“Um.”
“Uh.”
Ketahuilah aku tidak bisa berbasa-basi dengan orang ini.
Sejenak ketika aku memikirkan seribu satu cara untuk mengundurkan diri dengan baik dan benar, Tuan Penyihir akhirnya berbaik hati yang mengajukan diri. “Belanja?”