
https://pixabay.com/photos/handyman-construction-site-workers-3094035/
Jika pada bab-bab sebelumnya kita sibuk menggambar sketsa dan menormalkan struktur, sekarang kita akan belajar "bahasa" untuk memerintahkan komputer membangun gedung data tersebut. Bahasa ini adalah kunci bagi Anda untuk membangun fondasi sistem informasi akademik secara nyata, mulai dari membuat tabel mahasiswa, tabel dosen, hingga menyusun skema KRS yang menghubungkan keduanya secara terstruktur.
Dalam dunia basis data, kita tidak menggunakan instruksi sembarangan untuk membuat tabel. Kita menggunakan sekumpulan perintah khusus yang dikenal dengan Data Definition Language (DDL). DDL adalah sub-bahasa yang fokus pada pembuatan, pengubahan, dan penghapusan struktur atau kerangka basis data itu sendiri, bukan datanya. Bayangkan DDL sebagai instruksi untuk membangun gedung fakultas. Kita belum memasukkan mahasiswa atau dosen ke dalamnya; kita baru memastikan ruangan kelas (tabel) sudah tersedia, kursinya (kolom) sudah tertata sesuai kapasitas, dan setiap pintu memiliki kunci akses (primary key) yang benar agar kegiatan akademik bisa berjalan lancar.

Untuk memberikan perintah DDL, kita menggunakan bahasa standar internasional yang disebut SQL (Structured Query Language). SQL adalah bahasa universal yang digunakan oleh hampir seluruh sistem manajemen basis data di dunia. Dengan memahami SQL, Anda akan memiliki kemampuan untuk mengelola data di berbagai platform, baik itu untuk aplikasi pengelolaan data di tingkat program studi (prodi) maupun sistem portal akademik terpadu di tingkat kampus.

SQL pertama kali dikembangkan oleh IBM pada tahun 1970-an dan kemudian diadopsi sebagai standar oleh ANSI (American National Standards Institute). Standar ANSI ini sangat penting karena ia memastikan bahwa perintah dasar SQL yang Anda pelajari hari ini akan tetap berlaku dan dapat dijalankan meskipun Anda berganti sistem basis data di masa depan. Ibarat bahasa Indonesia yang memiliki ejaan yang disempurnakan (EYD), ANSI adalah "EYD"-nya dunia basis data.

Meskipun ada standar ANSI, setiap vendor basis data biasanya memiliki "dialek" atau variasi bahasa mereka sendiri yang disebut Extension. Dalam mata kuliah ini, kita akan menggunakan dialek yang ada pada MySQL dan MariaDB.
Meskipun terdapat sedikit perbedaan teknis di balik layar, sintaks (aturan penulisan) yang akan kita pelajari pada MySQL/MariaDB sebagian besar adalah standar ANSI. Hal ini memudahkan Anda karena sekali Anda mahir di sini, Anda tidak akan kesulitan saat harus berhadapan dengan sistem lain seperti PostgreSQL atau SQL Server di lingkungan kerja nantinya.

Foto oleh Magda Ehlers: https://www.pexels.com/id-id/foto/latar-belakang-merah-dengan-hamparan-teks-123456789-1329296/
Setelah kita memahami bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan basis data, langkah selanjutnya adalah menentukan jenis "kotak" yang tepat untuk menyimpan data angka. Dalam SQL, kita menyebutnya sebagai Tipe Data Numerik. Memilih tipe data yang tepat bukan hanya soal efisiensi memori, tetapi juga soal menjaga integritas data (keakuratan data agar tidak berubah atau salah hitung).
Di dunia akademik, kita berurusan dengan berbagai jenis angka: ada angka bulat seperti jumlah SKS atau kuota kelas, dan ada angka desimal seperti nilai indeks prestasi (IPK) atau nominal pembayaran uang kuliah. Mari kita bedah tiga tipe data numerik yang paling sering digunakan: