<aside> đź“–
Mungkin benar, beberapa cinta memang tbeRDrilah ditulis jauh sebelum dua insan saling mengenal. Semesta hanya bertugas menghadirkan perjumpaan-perjumpaan kecil agar rasa itu menemukan jalannya pulang.
</aside>
Pagi itu, aku hanya mampu membalas pertanyaan Ratna dengan gelengan kecil. Lidahku mendadak kelu, seolah seluruh kata berjatuhan entah ke mana. Udara pagi yang menggigit terasa mengendap canggung di sela-sela kami.
Ratna memiringkan kepala sedikit, lalu terkekeh pelan.
“Kaget, ya? Maaf… kupikir kita pernah bertemu. Wajahmu terasa tidak asing.”
Tawanya ringan, tetapi anehnya mampu membuat dadaku riuh tanpa sebab. Aku hanya ikut tertawa pelan, gugupku berusaha kusembunyikan serapi mungkin. Padahal kenyataannya, aku terlalu malu untuk mengaku bahwa diam-diam aku telah berkali-kali mencuri pandang ke arahnya dari kejauhan. Rasanya memalukan bila ia tahu dirinya pernah menjadi pusat dari begitu banyak lamunanku.
Semesta rupanya belum selesai mempermainkanku. Aku dan Ratna mendapat hukuman karena datang terlambat. Kesiswaan meminta kami membersihkan aula sekolah sebelum diperbolehkan masuk kelas. Aula tua itu terasa begitu luas, dipenuhi deret kursi berdebu dan bau kayu yang samar bercampur udara pagi. Awalnya kami tenggelam dalam diam. Hanya ada bunyi sapu yang bergesekan dengan lantai dan sesekali suara kursi yang diseret pelan. Namun diam yang terlalu lama selalu berhasil melahirkan canggung. Aku menghembuskan napas panjang.
“Sepertinya aula ini memang diciptakan untuk menguji kesabaran manusia.”
Ratna menoleh sekilas, lalu tawanya pecah begitu saja. Dan sialnya, setiap mendengar tawanya, ada sesuatu di dalam diriku yang terasa luruh perlahan.
“Mungkin ini karma buat orang yang hobi telat,” ujarnya sambil menyapu bagian sudut aula.
Aku tersenyum kecil.
“Kalau hukumannya begini terus, kurasa terlambat bukan ide seburuk itu.”
Ratna menghentikan gerakannya, lalu menatapku dengan alis terangkat.
“Kamu sering ngomong manis ke semua cewek, ya?”
“Cuma ke yang berhasil bikin aku telat mikir.”
“Hah?”
“Enggak, lupain aja.”
Ratna kembali tertawa, kali ini lebih lepas. Tawanya menggema kecil di sudut aula yang lengang, lalu menetap aneh di kepalaku. Aku memandangnya diam-diam. Perempuan itu ternyata tidak seperti bayanganku. Ia memang mudah mengomel, tetapi hatinya cepat mencair. Ada sesuatu dalam caranya berbicara. Ringan, hangat, hidup, yang perlahan membuatku lupa bagaimana rasanya menjaga jarak.
Dan pagi itu, di tengah lantai aula yang belum selesai dibersihkan, aku mulai menyadari satu hal, barangkali, jatuh hati memang sesederhana menemukan seseorang yang membuat waktu ingin berjalan lebih lambat.