Senja tidak lagi terasa indah bagi Woojin. Warnanya hanya mengingatkan bahwa ada sesuatu yang selalu berakhir, bahkan sebelum sempat ia nikmati sepenuhnya.
Ia masih remaja. Usianya seharusnya diisi hal-hal sederhana—lelah karena tugas sekolah, tertawa tanpa alasan, atau mengeluh tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berarti. Tapi hidupnya tidak berjalan seperti itu.
Hidupnya terasa seperti sesuatu yang terlalu cepat diputar, tanpa jeda, tanpa peringatan. Rumah yang ia tinggali tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah lagi.
Semuanya masih ada di tempatnya, tapi rasanya berbeda. Terlalu sepi. Terlalu dingin. Seperti tempat yang hanya digunakan untuk bertahan hidup, bukan untuk pulang.
Ibunya sudah tidak ada. Dan kepergiannya bukan hanya meninggalkan kehilangan—tetapi juga kekosongan yang tidak pernah bisa dijelaskan.
Woojin tidak pernah benar-benar belajar bagaimana cara kehilangan seseorang. Tiba-tiba saja semuanya hilang. Tiba-tiba saja tidak ada lagi yang menunggunya, tidak ada lagi yang memperhatikannya dengan cara sederhana yang dulu terasa biasa.
Hal-hal kecil yang dulu ia anggap sepele, sekarang justru yang paling menyakitkan untuk diingat.
Ayahnya masih hidup, tapi rasanya seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Sibuk bekerja, pulang larut, lelah, dan akhirnya hanya diam. Tidak ada yang salah, tapi juga tidak ada yang benar-benar terasa cukup. Tidak ada yang benar-benar melihat Woojin. Ia mulai terbiasa melakukan semuanya sendiri. Makan sendiri. Bangun sendiri. Menghadapi hari-hari yang terasa terlalu panjang… sendirian.
Awalnya terasa aneh. Lalu terasa berat. Lalu… perlahan jadi biasa. Dan di situlah letak sakitnya. Woojin mulai terbiasa dengan kesepian yang seharusnya tidak ia kenal sedini ini. Di luar, ia terlihat biasa saja. Tidak ada yang benar-benar berbeda. Ia masih pergi ke sekolah, masih menjawab ketika dipanggil, masih tertawa di waktu-waktu tertentu. Tapi semua itu terasa kosong. Seperti tubuhnya ada di sana, tapi dirinya tidak benar-benar ikut.
Ia sering merasa lelah. Sering merasa ingin menangis, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Sering merasa ingin berhenti, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Ada hari-hari di mana hal kecil saja sudah cukup untuk membuat dadanya sesak. Suara orang lain yang terdengar seperti perhatian. Pemandangan seseorang yang dijemput orang tuanya. Atau sekadar rumah yang terasa terlalu sunyi saat ia membuka pintu.
Hal-hal itu menusuk pelan, tapi dalam. Ia tidak pernah benar-benar punya tempat untuk cerita. Dan lama-lama, ia juga tidak tahu bagaimana caranya bercerita. Semua ia simpan sendiri, sampai perasaan itu menumpuk, penuh, dan akhirnya hanya berubah jadi diam.
Malam adalah waktu yang paling berat. Saat semuanya tenang, justru pikirannya tidak bisa berhenti. Semua yang ia tahan di siang hari datang sekaligus. Kenangan. Rasa rindu. Perasaan ditinggalkan. Dan satu hal yang paling ia benci—perasaan bahwa ia harus baik-baik saja, padahal jelas tidak.
Woojin tidak pernah benar-benar kuat. Ia hanya tidak punya pilihan selain terlihat kuat. Ia masih labil. Masih sering bingung. Masih butuh seseorang yang bilang bahwa tidak apa-apa untuk tidak mengerti semuanya.
Tapi tidak ada yang mengatakan itu. Tidak ada yang benar-benar berhenti untuk bertanya apakah ia baik-baik saja—dan benar-benar menunggu jawaban jujurnya. Dan lama-lama, ia pun berhenti berharap. Bukan karena ia tidak ingin didengar, tetapi karena ia sudah terlalu sering merasa tidak ada yang akan benar-benar mendengarkan.
Hari-hari terus berjalan. Woojin ikut berjalan di dalamnya, meski sering terasa seperti menyeret dirinya sendiri. Ia tidak hidup dengan bahagia. Ia hanya… hidup. Dan mungkin itu yang paling menyakitkan—ketika seseorang masih bernapas, masih terlihat “normal”, tapi di dalam dirinya, semuanya terasa hancur perlahan, tanpa suara, tanpa ada yang sadar, tanpa ada yang datang untuk benar-benar tinggal.
Woojin tidak meminta hidup yang sempurna. Ia hanya butuh seseorang yang cukup peduli untuk melihat bahwa ia lelah. Tapi bahkan itu pun terasa terlalu jauh. Dan akhirnya, yang tersisa hanyalah seorang remajayang belajar menerima bahwa tidak semua orang akan punya tempat untuk pulang— termasuk dirinya sendiri.