Tangan Naranaya dengan cekatan menggoreskan cat air pada kanvas. Setiap sapuan kuasnya membawa jejak perasaan yang tak terucap. Warna biru tua dan ungu pekat ia larutkan dalam air, lalu membiarkannya menari di atas kanvas, seolah semesta sedang diciptakan ulang melalui tangannya.

Di tengah lautan bintang yang tak bersuara, Naranaya melukis satu sosok: seekor jellyfish yang melayang sendirian di antara kehampaan. Di tengah hamparan galaksi yang ia ciptakan, ia menambahkan cahaya tipis berwarna putih kebiruan, garis terakhir yang menyusuri salah satu tentakel jellyfish itu. Lembut. Nyaris tak terlihat. Tapi bagi Naranaya, itulah bagian paling penting dari semuanya.

Garis itu bukan sekadar efek cahaya, melainkan simbol.

Simbol bahwa meski lelah, meski sendiri, makhluk itu masih punya arah, masih memiliki sisa cahaya untuk terus melangkah. Itulah pesan yang ingin ia titipkan diam-diam ke dalam lukisan ini. Sebuah bisikan lirih dari hati yang pernah hampa, tapi kini perlahan mulai mengerti bahwa makna hidup tidak selalu datang dalam bentuk jawaban. Kadang, ia hadir dalam keberanian untuk tetap mencipta di tengah kekosongan.

Saat sentuhan terakhir itu selesai, Naranaya meletakkan kuasnya perlahan. Ia menatap lukisan itu dan tersenyum kecil.

Lewat goresan warna, ia telah mengungkapkan hal yang tak mampu ia katakan pada siapa pun.

Dengan hati-hati, Naranaya meletakkan lukisannya di atas rumput, lalu memotretnya.

"Bagus banget!"

Suara tiba-tiba itu membuatnya terkejut. Naranaya berbalik, seorang perempuan dengan senyum ceria melambai padanya, mic di tangan dan kamera mengarah ke arahnya.

"Halo kak! Kita lagi Live report nih, boleh dong kasih sapaan buat penonton." Suara ceria Akira, sang MC Artvest, memecah konsentrasi Naranaya.

Naranaya tersenyum ramah, menatap lensa. "Halo, semuanya!" sapanya hangat.

"Sekarang, kita bersama siapa nih?" tanya Akira, mengulurkan mic ke arahnya.

"Aku Naranaya." jawabnya singkat.

"Oke kak Nar—"

"Panggil Nay aja" potong Naranaya dengan tawa ringan.

Akira terkikik. "Namanya lumayan panjang ya, Kak?"

Naranaya hanya mengangguk, matanya berbinar.

"Kalau boleh tahu, Kak Nay lagi lukis apa nih? Boleh juga ditunjukkan ke kamera hasil lukisannya."

Naranaya mengangkat kanvasnya dengan hati-hati. Di layar, terpampang jellyfish berwarna biru melayang di tengah galaksi yang penuh bintang.

"Aku ngelukis seekor jellyfish yang lagi melayang di tengah galaksi."