By: Arsyfizya

Seorang remaja meringkuk dalam kegelapan, punggungnya bergetar bukan menunjukkan kesedihan, melainkan ketakutan. Dia berdiam di sudut kamar, bersembunyi dari  kericuhan dunia yang tak ada hentinya. Dari luar terdengar samar suara reporter tv yang menyampaikan berita yang tak ingin didengarnya.

“… Sudah dua hari berlalu semenjak keajaiban hadir di depan mata kita. Ketika seseorang dengan ajaibnya menghentikan Bus yang hampir menabrak dua orang anak saat menyebrang jalan dengan kedua tangannya. Tak ada korban jiwa, tapi seseorang itu menghilang dalam sekejap dari pandangan. Hingga hari ini, kepolisian bekerja sama dengan badan intelijen serta militer untuk melacak keberadaan orang tersebut mengingat potensi ancaman yang dapat ditimbulkannya. Dimanakah dia? Apa dia malaikat yang akan melindungi kita? Atau iblis yang akan membakar kita semua? ...”

Suara itu berasal dari balon udara keliling yang menayangkan berita-berita terbaru, terutama dirinya yang dicari-cari. Selain itu, suara helikopter dan kendaraan polisi yang lalu lalang juga menghiasi suasana jalanan. Izuku tahu itu, suatu saat dunia akan tahu eksistensinya dan terguncang. Karena itu dia selalu menutup diri dari orang lain. Tapi, kini semuanya telah berakhir. Dirinya telah menjadi sumber pembicaraan di seluruh dunia, semuanya bertanya-tanya. Mungkin dunia memang belum siap untuk kehadiran seseorang dengan keajaiban di tangannya.

Di depan kamar, terdengar suara langkah kaki yang lembut bagai berjalan diatas sutra mendekat. “Izuku, ibu masuk,” ucap suara itu dari luar.

Dia membuka pintu, membiarkan cahaya masuk dalam ruangan yang sepenuhnya gelap itu. Dia kemudian menekan saklar lampu, seisi ruangan itu pun kini nampak jelas.  Sebuah kamar berukuran sedang dengan cat berwarna biru, dikelilingi oleh poster All Might—pahlawan fiksi dalam komik yang sangat disukai Izuku—di setiap sisinya. Sementara Izuku sedang meringkuk di sudut.

“Izuku, kamu ngga apa-apa?” ucap Ibunya sembari berjalan perlahan mendekati Izuku, kemudian memeluknya. “Kamu ngga boleh terus mikirin itu, nak. Kalau aja kerjaan ibu ngga pindah kesini, mungkin ini ...”

“Ngga, bu,” ucap Izuku, pelan. “Ini bukan salahmu, ini salahku karena memakai bakat sembarangan.”

“Itu ngga benar,” ibunya menggelengkan kepala. “Kamu udah ngelakuin hal yang benar dengan nolongin anak-anak itu.”

“Kalau itu hal yang benar … Lalu kenapa?!” ucapnya dengan nada tinggi. Dia mengangkat wajahnya, terlihat air mata membekas di pipinya dan matanya melihat dengan ketakutan. “Kenapa … Kenapa mereka nganggap aku seperti penjahat?!”

“Bukan begitu, merek—”

“Dunia ini … memang ngga mau menerima seseorang yang berbeda sepertiku. Kenapa aku terlahir berbeda, bu? Aku itu apa? Apa yang harus aku lakuin?” tanya Izuku dengan segala keingintahuan yang dia pendam selama ini.

“Izuku …,” jawab ibunya sepenuh hati. “Kamu itu anak ibu, dan itu yang terpenting. Kamu bukan berbeda, kamu hanya punya sesuatu yang lebih dari orang lain. Dan itu bukanlah yang bikin siapa dirimu. Tapi pilihanmu, nak, tindakanmu, itulah yang menentukan siapa kamu.”

Perlahan air mata kembali menetes melewati pipi yang sudah lembap. Mendengar untaian kata yang tulus itu, Izuku tak kuasa menahan tangis. Bukan lagi karena takut, tapi kini dia tahu, bagaimana pun dunia memandangnya akan selalu ada orang yang akan mendekapnya dan menerimanya.

“Izuku,” ucap ibunya, “Kamu itu orang paling baik yang ibu pernah tahu, dan ibu … ngga bisa lebih bangga lagi sama kamu karena hal itu.”

Dia kembali memberikan pelukan pada Izuku, sebuah pelukan yang hangat dan penuh kasih dan rasa bangga seorang ibu. Memperlihatkan sisi dunia yang akan selalu menerima dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Waktu pun dengan cepat berlalu. Cahaya sang surya telah padam ditelan cakrawala, sementara kegelapan malam telah menyelimuti angkasa. Izuku yang telah merasa lebih baik, kini pergi keluar untuk sedikit menenangkan pikirannya. Dia berjalan di jalanan yang perlahan sepi, meski mobil polisi dan helikopter masih terus lalu lalang. Dia berjalan sedikit jauh dari apartemennya, dan kini sampai di toko yang sudah sepi dan mungkin hendak tutup. Dia sering berkunjung apabila senggang untuk membeli makanan ringan atau hanya sekedar membantu.

Izuku masuk melalui pintu, terlihat toko itu menyediakan berbagai hal seperti makanan ringan, alat tulis, hingga mainan. Di belakang kasir duduklah sang pemilik toko itu, Torino-san yang sedang menonton televisi antik di sampingnya. Rambutnya yang mulai beruban menunjukkan sudah berapa lama hidupnya.

“Wah, wah, Izuku-kun. Tumben banget datang malam begini,” sapa Torino-san.