Senja turun terlalu cepat hari itu, layaknya seseorang yang dengan sengaja menarik tirai langit sebelum waktunya, semburat jingga yang keruh dan suram menggantung di atas hamparan sawah yang luas. Ryul masih berada di tengah petakan, tubuhnya membungkuk dengan ritme yang lambat, sabit di tangannya berkilat redup setiap kali menyentuh batang-batang rumput liar yang tumbuh di sela padi. Bau tanah basah menguar pekat, bercampur dengan aroma genangan air yang cukup amis. Aroma yang mampu membuat tenggorokan terasa gatal seperti ada sesuatu yang ikut terhirup.

Setiap gerakan Ryul terdengar jelas di sore itu, gesekan kain bajunya, hela napasnya, hingga suara rumput yang terputus. Semuanya terasa nyaring di tengah kesunyian sawah.

Ia berhenti sejenak, mengusap keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu menegakkan tubuh. Punggungnya terasa kaku, tapi ada sesuatu yang lain yang membuatnya enggan kembali membungkuk— perasaam samar seolah sedang diperhatikan.

Ryul menoleh ke kiri, ke kanan, memandang barisan padi yang bergoyang pelan diterpa angin menuju malam. Tidak ada siapa-siapa. Hanya garis horizon yang kosong, dan langit yang semakin kehilangan warna. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir perasaan itu, lalu kembali bekerja.

Jauh di pematang, Ohyul muncul dengan langkah cepat, kakinya sesekali terpeleset di tanah yang lembek. “Ryul!” panggilnya, suaranya menggema tipis di antara hamparan sawah.

“Sudah sore! Pulang!”

Ryul mendengar, jelas sekali, tapi entah kenapa suara itu terdengar seperti datang dari tempat yang sangat jauh, tertarik panjang, seakan melewati lorong sempit sebelum sampai ke telinganya. Ia menoleh, mengangkat tangan sedikit sebagai tanda mendengar, tapi tidak menjawab. Sabitnya kembali bergerak, meski kini lebih lambat.

“Ohyul?” suaranya akhirnya keluar, tapi lirih.

Angin berhenti.

Benar-benar berhenti.

Tidak ada lagi gesekan daun padi, tidak ada riak kecil di air sawah, bahkan suara serangga yang sejak tadi samar terdengar pun mendadak lenyap. Kesunyian itu tidaklah menenangkan, melainkan menekan dari segala arah. Ryul mengangkat kepala lagi, alisnya berkerut, dan untuk pertama kalinya, ia merasa sesuatu yang dingin merayap pelan dari tengkuknya turun ke punggung.

“Ryul!” suara Ohyul terdengar lagi, kali ini lebih dekat, tapi anehnya lebih pelan. Seperti teredam.

Ryul berbalik sepenuhnya, mencari sosok temannya di pematang. Ia melihat Ohyul, benar, berjalan cepat ke arahnya, tapi langkah itu tampak ganjil— seperti sedikit tersendat, seperti bayangan yang bergerak tidak sinkron dengan tubuhnya sendiri. Ryul menyipitkan mata, mencoba memastikan apa yang ia lihat, ketika sesuatu di ujung pandangannya menarik perhatian.

Di antara barisan padi, tidak jauh dari tempat ia berdiri, ada sesuatu.

Putih.

Diam.

Terlalu besar untuk sekadar batang tanaman.

Ryul menatapnya, awalnya dengan bingung, lalu perlahan-lahan dengan rasa yang mulai berubah menjadi waspada. Kain itu tampak kusam, warnanya bukan putih bersih, melainkan putih yang sudah lama terkena tanah dan air. Ia tidak bergerak, tidak pula bergoyang meski angin meniup kencang. Hanya berdiri di sana, sunyi, seolah memang sudah berada di sana sejak awal— hanya saja Ryul baru menyadarinya sekarang.

“Ryul!” Ohyul kini sudah lebih dekat, napasnya terdengar terburu-buru. “Kamu ga dengar aku dari tadi?”

Ryul tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada sosok itu. Ada bagian di dalam dirinya yang berteriak untuk tidak mendekat, bahkan sekadar menatap terlalu lama. Tapi bagian lain— yang bodoh dan penasaran memaksanya tetap melihat.